JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Nasib Tragis Atlet Bulutangkis Cilik Peraih Berbagai Gelar Juara di Sragen. Ortu Menyerah Kehabisan Biaya, Mau Mundur Dari Klub Malah Ditarik Rp 6 Juta 

Pebulutangkis cilik, Alexandra Anggraini (10) saat berpose bersama mantan pemain terbaik putri Indonesia, Adriyanti Firdasari seusai kejuaraan Audisi Jayaraya di Solo belum lama ini. Foto/Istimewa
Pebulutangkis cilik, Alexandra Anggraini (10) saat berpose bersama mantan pemain terbaik putri Indonesia, Adriyanti Firdasari seusai kejuaraan Audisi Jayaraya di Solo belum lama ini. Foto/Istimewa

SRAGEN- Nasib tragis dialami dua atlet bulutangkis cilik, Alexandra Anggraini (10) dan Arneslin (7). Pebulutangkis cilik kakak beradik itu kini harus mengalami kenyataan pahit.

Di tengah mimpi besar mereka meretas asa dan prestasi, keduanya harus menerima kenyataan terhenti akibat kendala biaya. Kondisi ekonomi orangtuanya yang kehabisan biaya, membuat mereka harus mundur dari klub.

Namun alih-alih dibantu, keduanya justru harus menelan pil pahit dipersulit dan digantung oleh klubnya ACGR Sragen. Pihak klub ngotot hanya mau melepas mereka jika mampu membayar Rp 6 juta dengan dalih untuk kompensasi latihan.

“Padahal selama 2 tahun anak saya latihan di situ, tiap bulan juga membayar bulanan. Yang besar (Alexandra) bulanannya Rp 750.000, yang kecil (Arneslin) bulanannya Rp 350.000. Dulu sampai saya jual sawah karena lihat anak semangat latihan dan bisa juara di beberapa turnamen. Sekarang saya sudah nggak kuat Mas, nggak bisa bayar biaya lagi. Inginnya saya mundur, biar latihan sendiri di rumah. Kok malah didenda segitu banyaknya. Saya sedih juga kecewa Mas,” ujar Agung (50) orangtua Alexandra saat menyampaikan curahan hatinya ke wartawan di GOR Diponegoro Sragen Jumat (4/1/2019).

Agung menguraikan tekad besarnya berjuang mencari biaya sampai rela jual harta benda, tak lepas dari bakat besar yang ditunjukkan kedua putri kecilnya itu terutama Alexandra. Meski baru 2 tahun mengenal bulutangkis, Alenxandra sudah mampu juara di beberapa event kelompok usia dini di Ngawi, Solo maupun Karanganyar.

Namun harapan besarnya tak berbanding dengan ekonominya. Penghasilan sebagai pekerja swasta rupanya tak cukup menopang mahalnya biaya antar jemput dan bulanan di klub AGCR Sragen.

Baca Juga :  Tolak KAMI, Dewan Rakyat Jelata Sragen Gelar Demo di Alun-Alun. Sunarto Ingatkan KAMI Rawan Ditunggangi Kepentingan dan Berpotensi Adu Domba Warga!

“Saya sudah mengajukan mundur dari klub sejak 10 Desember 2018 lalu. Tapi dari pelatihnya minta bayar Rp 3 juta per anak. Sempat minta Rp 10 juta juga untuk dua anak, saya tetap keberatan. Alasannya untuk kompensasi melatih dari kecil. Saya juga heran, wong latihan dari kecil itu saya juga bayar mahal tiap bulan, nggak gratis. Tapi mereka ngotot nggak mau mengeluarkan surat kalau nggak bayar denda itu,” tutur Agung.

Polemik itu pun akhirnya sampai ke meja PBSI Sragen. Agung yang merasa dipersulit, mencoba mencari keadilan dengan melayangkan surat keberatan denda ke PBSI Sragen.

Tak mau kalah, pemilik klub AGCR juga membalas dengan melayangkan surat ke PBSI.

Hingga akhirnya persoalan denda itu dimediasi Jumat (4/1/2019) siang oleh Ketua Pengcab PBSI Sragen, Pujiyatmoko dan pengurus PBSI Sragen.

Mediasi dihadiri pemilik AGCR, berinisial SK dan Agung di kantor Disnaker tempat tugas sang Ketua PBSI.

Namun tak ada titik temu lantaran pemilik klub ngontot hanya akan melepas ketika denda Rp 6 juta dibayar. Sementara, Agung tetap keberatan dengan denda itu lantaran dirinya dalam kondisi kesulitan ekonomi dan selama ini sudah keluar uang banyak untuk biaya latihan anaknya di AGCR.

Ketua Pengcab PBSI Sragen, Pujiyatmoko menyampaikan mediasi sudah dilaksanakan sebelum melampaui batas waktu 30 hari dari surat masuk. Ia juga menyampaikan pemilik klub AGCR tetap bersikukuh meminta denda Rp 6 juta untuk melepas dua bocah itu, sedang orangtuanya tetap keberatan ditarik denda.

Baca Juga :  Awas, Muncul Kasus Baru Covid-19 dari Klaster Keluarga di Beberapa Kecamatan di Sragen dan Makin Ganas. Di Mondokan Satu Orang Tulari 7 Orang Dekatnya, di Masaran 1 Warga Positif Tulari 9 Orang

“Karena nggak ada titik temu, kita akan lemparkan ke Pemprov. Yang penting kita sudah sesuai aturan, mediasi sudah kita laksanakan. Ya apa adanya akan kita laporkan ke Pemprov. Tadi dari pemilik klub mintanya tetap Rp 3 juta per anak. Kalau yang usia dini memang ada aturannya, tapi yang usia pradini belum tertuang,” urai Pujiyatmoko.

Pemilik AGCR, SK langsung bergegas keluar seusai mediasi dan mengendarai motornya tanpa sepatah kata. Sementara, Alexandra yang hari itu juga ikut bapaknya, mengaku sebenarnya masih sangat ingin latihan di klub namun ia juga bingung karena bapaknya sudah tak kuat membiayai.

Ia mengaku sudah terlanjur senang dengan bulutangkis dan sudah banyak dapat juara di beberapa event bulutangkis tingkat lokal maupun regional.

“Ya sedih. Tapi saya tiap hari masih latihan sendiri di rumah. Dilatih temannya Bapak. Saya ingin terus latihan meski di rumah. Pinginnya masuk pelatnas dan jadi juara kayak Gregoria Mariska Mas,” ujar atlet cilik kelahiran Ngrambe, Sine itu. Wardoyo

 

Alexandra Anggraini bersama beberapa maestro bulutangkis nasional. Foto kolase/Wardoyo

PROFIL DAN PRESTASI ALEXANDRA ANGGRAINI:

Nama Lengkap: Alexandra Anggraini

Kelahiran : Ngrambe, Sine, Ngawi

Usia : 10 Tahun

Kelompok Bulutangkis : Usia dini

Prestasi di 2018:

1. Juara 1 Turnamen Bulutangkis Kelompok Usia Dini Audisi Jayaraya di Ngawi.

2. Juara 2 Turnamen Bulutangkis Bupati Cup di Karanganyar 2018.

3. Juara 1 Tunggal Putri Kelompok Usia Dini Audisi Jayaraya di Solo 2018.

4. Juara 1 Tunggal Putri Kelompok Usia Dini Vasco Cup Ngawi 2018.

5. Juara 3 Tunggal Putri Kelompok Usia 17 Vasco Cup di Ngawi 2018.

Sumber: Wawancara