loading...
Tribunnews

SLEMAN — Desa Sambirejo, Kecamatan Kalasan, Sleman Provinsi DIY sempat heboh. Pasalnya, terdapat lubang besar di Kali Kuning yang menyedot air sungai sampai kering.

“Kejadiannya Jumat (8/2/2019) kemarin, sekitar pukul 11.00 WIB siang,” papar Giyanto, salah satu warga Sambirejo, Senin (11/2/2019) malam.

Saking hebohnya, peristiwa langka itu sempat direkam oleh salah satu warga dan diunggah sehingga menjadi viral.

Tifak tanggung-tanggung, bahkan peristiwa itupun diunggah pula oleh Kepala Pusat Informasi, Data, dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Namun Giyanto mengakui,  sebenarnya kejadian serupa pernah terjadi dua kali sebelumnya. Hanya saja, kali ini lubangnya jauh lebih besar.

“Warga sebelumnya sudah menahan aliran air dengan karung pasir dan sebagainya, tapi ternyata jebol lagi,” tutur Giyanto.

Baca Juga :  Calo Tiket KA Masih Berkeliaran, Tertangkap Jual Tiket Prameks
Loading...

Menurut Giyanto, lubang tersebut terbentuk lantaran dasar sungai tidak kuat menahan aliran air di atasnya.

Ia juga menyebut bagian dasar sungai tersebut sudah berlubang kecil. Debit air juga terbilang tinggi saat itu, ditambah dengan kondisi cuaca yang sering turun hujan deras.

“Karena tidak kuat menahan air, makanya lubang kecil yang sudah terbentuk di dasar sungai jadi membesar dan jebol,” jelas Giyanto.

Setelah kejadian, Dinas PUPKP Sleman menerjunkan alat dan personel untuk proses perbaikan sedimen Kali Kuning tersebut.

Kabid Bina Marga DPUPKP Sleman Akhmad Subhan menyatakan, perbaikan harus segera dilakukan demi mencegah terjadinya kembali peristiwa yang sama.

“Kami langsung berkoordinasi dengan BKSDA dan Bina Marga untuk proses perbaikan,” terang Akhmad melalui telepon.

Baca Juga :  Tersedotnya Air di Kali Kuning ke Dalam Lubang, Ternyata Bukan Fenomena Alam, Tapi ini Penyebabnya

Kejadian serupa ini pernah juga terjadi di Semanu, Kabupaten Gunungkidul.  Air yang tertampung di dalam luweng hilang seketika.

Luas dan dasar luweng semakin luas dan dalam akibat ambles dan tererosi.

Kejadian tersebut diceritakan oleh warga setempat, Suharto, petani yang sehari-hari bercocok tanam di sekitar luweng, fenomena mengeringnya air danau secara mendadak tersebut pada Minggu (21/1/2018) siang lalu. Sekitar pukul 14.00 WIB siang, air masih memenuhi danau.

Saat memanen kacang, Suharto tiba-tiba mendengar suara gemuruh dari dasar danau.
Air yang ada di dasar danau perlahan-lahan menyusut.

Lapisan tanah di pinggir danau juga tergerus ke dasar dan bertambah luas hingga belasan meter. Air di dalam danau baru benar-benar surut pada pukul 16.00 WIB.

Baca Juga :  Sejumlah Pengemudi Ojek Online di Jogja Tak Setuju RPM Perhubungan

“Saya sedang memanen kacang di ladang saya tidak jauh dari luweng baru itu. Tiba-tiba ada suara gemuruh begitu, lalu saya periksa. Air di danau itu bergerak, menyusut. Tanah yang ada di pinggir danau ikut terbawa ke dasar,” ujar Suharto, Senin (22/1/2018). #tribunnews


Loading...