loading...
Loading...
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan ( Menko PMK), Puan Maharani saat menyampaikan Kuliah Umum di Gedung Teater Besar Umardani Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Senin (18/3/2019). Triawati

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM– Seni adalah keahlian untuk membuat karya memiliki nilai keindahan. Dan Seni tidak dapat dilepaskan dari budaya. Karena nilai-nilai keindahan selalu berakar dari budaya masyarakat.

Hal iti disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan ( Menko PMK), Puan Maharani saat menyampaikan Kuliah Umum di Gedung Teater Besar Umardani Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Kuliah Umum dengan tema “Inovasi Seni Menuju Indonesia Maju dan Berbudaya di Era Industri 4.0 (Four Point Zero)” merupakan agenda pertama dari Kunjungan Kerja ( Kunker) Menko PMK di Jawa Tengah, Senin (18/3/2019).

Menurut Menko PMK, Indonesia sebagai bangsa yang majemuk, terdiri dari 17.000 pulau, 714 suku, 1.100 bahasa, memiliki keragaman seni budaya. Maka dari itu, berbagai berbagai karya seni yang dihasilkan memiliki ciri khas dan berbeda disetiap daerah. Seni gamelan contohnya, walaupun pada dasarnya sama namun antara gamelan Jawa Tengah dengan gamelan Jawa Timur memiliki perbedaan yang menjadi ciri khas masing-masing.

Baca Juga :  Pilpres 2019, Jokowi-Ma'ruf Merajai Wilayah Surakarta. Ini Hasil Perhitungan Suara di Sejumlah TPS

“Begitu juga seni membatik, seni menenun, seni tari, seni lukis, seni pahat, seni kuliner, dan sebagainya memiliki kekhasan budaya di setiap wilayah Nusantara,” terang Puan.

Sementara, salam era globalisasi saat ini, menurut Menko PMK, nilai-nilai dalam seni budaya memiliki dinamika yang dapat memberikan peluang sekaligus tantangan. Tantangan yang dihadapi seni budaya saat ini adalah bagaimana mempertahankan nilai-nilai luhur seni budaya dalam menghadapi nilai-nilai seperti nilai komersial, nilai kepraktisan, nilai fungsional, dan lain sebagainya.

Puan juga menuturkan, seni budaya juga merupakan produk dari zamannya. “Dan saat ini kita berada di era digital dan teknologi, sehingga keindahan gerak, keindahan suara, keindahan visual, dapat dibuat sedemikian beragam dengan berbagai teknik berbasiskan teknologi. Sebagai contoh, film animasi dengan teknologi dapat memadukan seni lukis, seni gerak dan seni audio, menjadi film,” jelasnya.

Baca Juga :  PDIP Babat Suara di Solo, Jumlah Kursi di DPRD Bertambah Lima Jadi 29 Kursi

Menghadapi era industri 4.0 (four point zero), menurut Menko PMK, ISI Surakarta perlu menyiapkan mahasiswanya, selain mempunyai kemampuan akademik yang baik, juga memiliki keterampilan dalam memanfaatkan teknologi informasi komunikasi. Sehingga selain terampil dalam bidang seni, juga terampil dalam menggunakan Teknologi Informasi Komunikasi.

“Visi ISI Surakarta, adalah menjadi perguruan tinggi seni berbasis kearifan budaya nusantara yang berkelas dunia. Oleh karena itu, selain membangun sisi keterampilan dan keahlian, ISI Surakarta, diharapkan juga dapat memperkuat komitmen untuk membangun ketahanan budaya bangsa berbasiskan budaya nusantara,” tandas Puan.

Baca Juga :  KPU Solo Distribusikan Logistik Pemilu ke PPS dengan Pengawalan Ketat

Turut hadir, Anggota DPR-RI Bambang Wuryanto dan Agustin Wilujeng, Rektor ISI Surakarta Guntur, Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya beserta istri, anggota senat ISI, serta para civitas akademika ISI Surakarta. Triawati PP

Loading...