JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Internasional

Munculnya Mayat-mayat di Gunung Everest Jadi Pertanda Bahaya, Ini Sebabnya

everest
ilustrasi/tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Penemuan mayat-mayat para pendaki gunung Everest menjadi sebuah pertanda berbahaya. Simbol bahwa satu kejadin  besar tengah terjadi di puncak gunung tertinggi itu.

Sebenarnya “penemuan-penemuan” mayat ini adalah peringatan akan bahayanya es yang mencair akibat perubahan iklim.

Seiring peningkatan suhu, mencairnya gletser tidak terhindarkan, khususnya daerah Khumbu di mana jenazah terbanyak ditemukan.

Sejak awal, Gunung Everest adalah tantangan bagi pendaki dari seluruh dunia, karena dengan mudah merenggut nyawa.

Gunung setinggi 29.00 ibu jalan kaki, setara dengan delapan  kilometer di atas permukaan laut (kmdpl). Lokasi itu memiliki tekanan udara yang tinggi dan udara yang tipis, menyulitkan pendaki untuk bernapas, permukaan yang curam, menyulitkan pendaki untuk berpindah dari shelter ke shelter lain.

Baca Juga :  Kabar Gembira, Arab Saudi Buka Kembali Layanan Umroh secara Bertahap. Jemaah Luar Negeri Diizinkan Datang Mulai 1 November 2020

Titik perkemahan tertinggi yang pada ketinggian 26 ribu kaki (7 kilometer), dijuluki sebagai zona kematian, karena banyak pendaki yang tidak bertahan, seperti kesulitan bernapas dalam dua hingga tiga hari ke depan.

Pendakian Everest dimulai sejak tahun 1922 dan mencatatkan rata-rata tiga ratus orang meninggal dunia pada zonasi tertinggi atau area kematian. Kematian tersebut disebabkan oleh berbagai faktor seperti tertimpa longsoran salju, terjatuh, kelelahan, hingga hipotermia.

Baca Juga :  50 Negara Jatuh ke Jurang Resesi Gara-gara Pandemi Covid-19, Mulai dari Malaysia hingga Amerika Serikat. Ini Daftar Lengkapnya

Tidak berhenti sampai di situ, jenazah pendaki akan mengalami mumifikasi seiring dengan suhu dan embusan ekstrem.

Selama proses evakuasi, penyelamat harus mengeluarkan jenazah dari es, dan bobot mayat naik dua kali lipat. Proses ini sangatlah sulit, setidaknya dalam satu tim, terdapat delapan orang.

Penyebabnya, banyak yang terjatuh atau terkena longsoran salju. Titik pendakian Khumbu dikenal sebagai titik paling berbahaya, terlebih dengan adanya lapisan es yang tipis.

www.tempo.co