Begini Kepanikan Jika Pemkab Karanganyar Diguncang Gempa 7 Skala Ricther. Ratusan Pegawai Panik dan Berdesakan Menyelamatkan Diri

49
Foto simulasi penanganan bencana gempa di Pemkab Karanganyar. Foto/Humas

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM– Kepanikan tergambar di Kantor Pemkab Karanganyar, Jumat (26/4/2019) pagi. Sebuah gempa bumi berkekuatan 7 skala richter menggundang hingga mengakibatkan kerusakan.

Ratusan pegawai tampak panik berusaha menyelamatkan diri dengan berebut keluar ruang.  Sebagian besar terluka karena berdesak-desakan, sedangkan lainnya tertimpa atap bangunan.

Konsleting listrik yang memicu kebakaran di lantai II memperparah kondisi tersebut. Tercatat empat orang meninggal dunia, enam luka berat, 10 luka sedang, empat luka ringan dan dua dua luka bakar 80 persen.

Namun, suasana kegempaan itu hanya sebuah simulasi dan beruntung bukan kejadian sungguhan.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Bambang Djatmiko memandang perlunya perbaikan aspek keamanan gedung setda Kabupaten Karanganyar. Hal itu diperlukan guna mengantisipasi kemungkinan potensi bencana dan timbulnya korban jiwa.

Hal itu disampaikan seusai simulasi gempa dan kebakaran di lingkungan kerja ASN tersebut, Jumat (26/4/2019).

“Bagi rekan ASN, penting bagi mereka untuk mengenali bencana. Mereka dilibatkan sebagai obyek penanganan bencana gempa dan kebakaran dalam simulasi kali ini. Juga, diperlukan perbaikan serta penambahan alat penanggulangan bencana. Termasuk APAR dan hidrant di kantor Setda,” katanya.

Dalam simulasi tersebut, diperagakan pula bagaimana para korban dievakuasi oleh tim gabungan dari BPBD, damkar, SAR, PMI yang dibantu TNI, polisi dan Satpol PP.

Sekitar 250 sukarelawan dilibatkan mengevakuasi korban dalam kegiatan menyambut Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) tersebut.

Simulasi itu memeragakan pula evakuasi vertikal tiga korban luka dari jembatan penghubung antargedung ke bawah dengan cara rappeling. Seluruh korban ditangani di tenda darurat halaman kantor.

“Setelah simulasi, diharapkan ada peningkatan pengetahuan bagi semua peserta. Baik itu masyarakat maupun petugas. Prioritas adalah meminimalisasi jatuh korban. Entah itu penjabat maupun warga sipil,” kata Bambang. Wardoyo