JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Menengok Ritual Berkelahi Antar Dukuh di Tawangmangu Karanganyar. Berawal Saling Lempar, Kini Jadi Buruan Wisatawan 

Tradisi dhukutan yang digelar Selasa (30/4/2019). Foto/Humas
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

WhatsApp Image 2019 04 30 at 2.37.00 PM 768x512
Tradisi dhukutan yang digelar Selasa (30/4/2019). Foto/Humas

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM Karanganyar tak hanya dikenal dengan potensi wisata alam yang beragam. Namun kabupaten berjuluk Bumi Intanpari ini juga kaya akan ritual adat yang menarik.

Salah satunya adalah ritual tradisional Dhukutan di Kampung Nglurah, Desa Nglurah, Kecamatan Tawangmangu. Berawal dari ritual kampung yang digelar internal warga, namun tradisi turun temurun itu kini ternyata telah naik pamor dan menjadi salah satu obyek wisata yang banyak menarik kunjungan wisatawan.

Tak terkecuali pada perhelatan Ritual Dhukutan Selasa (30/1/2019). Dahulu Dhukutan digelar untuk merukunkan warga karena sering tawuran atau berkelahi antara dusun Nglurah Lor dan Nglurah Kidul.

Baca Juga :  Masuk Zona Merah, Peringatan HUT Karanganyar 103 Digelar Secara Sederhana. Bupati Tonjolkan Prestasi

Kini prosesi ritual Dhukutan sebagai simbol bahwa kedua desa telah kembali rukun dan membangun kebersamaan.

“Ritual Dhukutan ini simbol pemersatu antara kedua dusun. Kedua dusun sudah tidak ada dendam dan hidup saling rukun,” papar Koordinator Lingkungan (korling) Nglurah, Ismanto Hartono, Selasa (30/04/2019).

Ritual dhukutan dimulai dengan makanan dari nasi jagung didoaakan bersama. Usai didoakan, kemudian para pemuda yang membawa nasi jagung tersebut berputar-putar keliling desa. Kemudian melempar nasi jagung tersebut kepada orang yang ditemuinya. Namun akibat pelemparan tersebut tidak ada warga yang marah atau dendam.

Baca Juga :  Terus Melejit, Kasus Covid-19 Karanganyar Tambah Jadi 1.273 Hari Ini. Jumlah Warga Meninggal Sudah Capai 196 Orang

“Upacara tradisi ini dilakukan setiap 7 bulan sekali. Alhamdulillah, setiap ritual tradisi dilakukan masyarakat dari berbagai daerah datang untuk menyaksikan acara tersebut,” imbuhnya.

Dia menambahkan tradisi dhukutan saat ini ditambahi berbagai seni dari masing-masing warga. Mulai dari seni pertunjukkan reog, pakaian tradisional dan tarian.

Menurut Ismanto tradisi dhukutan sudah dilakukan secara turun-temurun dari nenek moyang warga desa setempat. Wardoyo