loading...
Loading...
Para sisea SMA dan SMK di Sragen saat bersiap menyambut kehadiran Presiden Jokowi di sepanjang jalan raya Sukowati, Rabu (3/4/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM- Agenda kunjungan kerja Presiden Jokowi ke Sragen menuai kritikan pedas dari tim Barisan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi. Mereka menyayangkan pengerahan siswa SMA/K untuk melakukan penyambutan di sepanjang jalan yang dilalui Presiden menuju lokasi kunjungan di GOR Diponegoro Sragen.

Juru bicara tim BPN Prabowo-Sandi Jawa Tengah, Sriyanto Saputro mengatakan indikasi pengerahan itu diketahui dari instruksi dan edaran yang ditujukan kepada MKKS SMA/SMK di Sragen.

Instruksi menggerakkan siswa menjadi pagar betis itu juga beredar lewat pesan WW. Pesan itu berbunyi:

Kepada Yth. Ketua MKKS SMA & SMK

Utk menyambut acara kunker Bpk Presiden RI besuk hr Rabu, 3 April 2019  dimohon utk siswa siswi SMA DAN SMK yg ada di kota utk menjadi pagar betis di sekitar pertigaan beloran smp  di GOR.Diponegoro

Jam 08.00 sd selesai.

Catatan

1.Sragam Pramuka

2.Membawa bendera kecil merah puti

Ttd

Sekretaris dinas pendidikan dan kebudayaan ksb sragen.” 

Sriyanto menilai edaran dan pengerahan siswa SMA dan SMK itu mencerminkan Pemkab tak paham aturan. Menurutnya, dalam UU No 32/2014 tentang Pemerintah Daerah sudah mengamanahkan bahwa pengelolaan SMA/K menjadi kewenangan propinsi bukan lagi di bawah wewenang kabupaten atau bupati.

Baca Juga :  Putrinya Lahir, Gibran : Wajahnya Agak Mirip Jan Ethes, Semoga Kelahiran Anak Kedua Saya Membuat Kota Solo Makin Adem

“Patut diduga memang upaya pengerahan massa dan siswa yang tidak sesuai aturan. Menurut kami ini bentuk arogansi mengerahkan PNS dan siswa karena hari libur. Saya menilai Pemkab enggak paham aturan kalau SMA dan SMK itu kewenangannya di provinsi. Daerah atau bupati nggak berwenang,” papar Sriyanto kepada wartawan, Rabu (3/4/2019) pagi.

Dia juga menyoroti kehadiran Presiden di Sragen juga masih bias lantaran selama ini Presiden cuti atau tidak juga menurutnya belum jelas.

Sriyanto menengarai pengerahan PNS dan siswa menyambut kehadiran Presiden Jokowi dimungkinkan karena Sragen sebelumnya dihadiri Sandiaga Uno dengan sambutan ribuan millenial.

“Rakyat bisa menilai. Enggak jadi soal,silakan kalau mereka mau menggunakan alat negara dan kekuasaan untuk mobilisasi siswa dan PNS. Menurut kami ini cermin pola-pola untuk bangun opini bahwa Sragen lebih baik untuk mereka. Silakan kita akan catat itu sebagai cara-cara tidak elegan,” lanjutnya.

Baca Juga :  Miris, Lima Ibu Melahirkan di Sragen Meninggal Dunia, 146 Bayi Juga Tak Terselamatkan

Sriyanto berharap Bawaslu cermat mengawasi. Jika kegiatan dimanfaatkan untuk kepentingan politik, menurutnya harus ditindak tegas.

Terpisah, Sekda Sragen Tatag Prabawanto tak menampik instruksi pelibatan siswa untuk menyambut kunjungan Presiden. Menurutnya hal itu wajar sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden sebagai pemimpin negara yang berkunjung ke daerah.

Senada, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menegaskan kehadiran Presiden dalam kapasitas sebagai Presiden RI dan hadir sebagai kunjungan kerja. Menurutnya jika kapasitas kehadiran sebagai Capres, tentu PNS tidak akan dikerahkan untuk menyambut.

“Bahkan saya meminta PNS untuk datang. Karena yang hadir Presiden. Kita semua ada hierarkinya. Sebagai bentuk penghormatan kepada pimpinan,” paparnya. Wardoyo

Loading...