loading...
Loading...

JAKARTA, Joglosemarnews.com – Selama 12 hari berjalan sejak hajatan Pemilu, 17 April 2019 lalu, sudah ada 304 orang petugas KPPS dan 72 orang pengawas Pemilu meninggal dunia.

Hal itu dikatakan oleh Sekretaris Jenderal Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arif Rahman Hakim.

Menurut dia, data terakhir yang masuk sampai Senin (29/4/2019) pukul 14.00 WIB, yang sakit mencapai 2.209 orang, dan total yang tertimpa musibah sebanyak 2.513 orang.

Baca Juga :  Densus 88 Ringkus Terduga Teroris, Sita Buku dan Busur Anak Panah

Selain petugas KPPS, Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu)  Mochammad Afifuddin mengatakan, petugas pengawas pemilu yang meninggal mencapai 72 orang tersebar di 23 provinsi.

Jumlah itu berdasarkan data Divisi SDM Bawaslu sampai tanggal 28 April pukul 23.59 WIB.

“Untuk yang dirawat inap mencapai 305 orang, rawat jalan sebanyak 889 orang,” kata Afifuddin saat dihubungi, Senin (29/4/2019).

Baca Juga :  Hindari Wartawan Usai Diperiksa, Kepala Bapenda Bekasi Kabur Panjat Tembok

Rincian lainnya, ujar Afifuddin, 17 orang mengalami kekerasan. Pengawas pemilu yang mengalami kecelakaan, menurut dia terjadi kepada 200 orang pengawas pemilu.

“Ada sembilan orang yang keguguran dan sebelas orang cacat tetap,” ujarnya.

Sebelumnya, anggota KPU, Evi Novida Ginting mengatakan Menteri Keuangan Sri Mulyani telah menyetujui usulan mereka untuk memberikan santunan bagi penyelenggara pemilu yang mengalami kecelakaan kerja selama bertugas dalam Pemilu 2019.

Baca Juga :  Duar.. ! Ditagih Uang Proyek, Anak Bupati Majalengka Malah Menembak Kontraktor

Dalam surat yang dikirim Menkeu tanggal 25 April 2019, diuraikan bahwa besaran santunan untuk para petugas KPPS itu adalah, korban meninggal sebesar Rp 36 juta; cacat permanen sebesar Rp 30 juta; luka berat sebesar Rp 16,5 juta; dan luka sedang sebesar Rp 8,25 juta.

“Besaran ini adalah angka maksimal yang tidak boleh dilampaui,” ujar Evi melalui keterangan pers, Senin (29/4/2019).

www.tempo.co

Loading...