loading...
Loading...
Direktur IKP Kementerian Kominfo, Wiryanta saat memberikan paparan dalam.acara sosialisasi pencegahan prevalensi stunting lewat wayang kulit di Gunungkidul. Foto/Wardoyo

GUNUNGKIDUL, JOGLOSEMARNEWS.COM- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) kembali menggencarkan sosialisasi pencegahan dan penurunan prevalensi kasus stunting. Menjaga pola hidup bersih dan sehat serta memperhatikan asupan nutrisi sejak bayi menjadi hal terpenting yang ditekankan kepada masyarakat.

Kali ini, sosialisasi digelar di Gunungkidul, Yogyakarta Jumat (30/3/2019) malam. Sosialisasi digelar dengan pertunjukan rakyat wayang kulit yang menghadirkan dalang Ki Warseno Slenk.

Tak kurang dari 1.000 warga memadati acara wayangan yang dihadiri langsung oleh Direktur IKP Kementerian Kominfo, Wiryanta tersebut. Sejumlah pejabat Pemkab setempat dan dinas terkait turut hadir.

Dalam paparannya, Wiryanta mengungkapkan sosialisasi soal stunting digencarkan karena berdasarkan data Kementerian Kesehatan, saat ini 30,8 persen atau sekitar 3 dari 10 anak Indonesia mengalami stunting.

“Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, sehingga tinggi anak terlalu pendek untuk usianya. Kondisi

Baca Juga :  Miris, Lima Ibu Melahirkan di Sragen Meninggal Dunia, 146 Bayi Juga Tak Terselamatkan

kekurangan gizi ini terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah lahir. Namun stunting baru terlihat setelah anak berusia 2 tahun,” paparnya kepada wartawan.

Wiryanta menguraikan stunting bukanlah isu sederhana dan tak bisa dipandang sebelah mata. Menurutnya, faktor utama penyebab terjadinya stunting bukanlah faktor keturunan seperti yang selama ini menjadi paradigma di masyarakat.

Akan tetapi kendala lingkungan jauh lebih berperan dalam terjadinya stunting. Stunting tak hanya merugikan pertumbuhan fisik dan kognitif, tapi juga kesehatan anak di masa mendatang.

Dampak lanjutan dari stunting atau yang dikenal dengan fenomena Baker berefek pada kesehatan dan produktivitas anak, tingkat kecerdasan yang menurun, menyebabkan rendahnya produktivitas anak ketika dewasa. Akibatnya, pendapatan yang diperoleh kurang dan tidak menghindarkan dirinya dari garis kemiskinan.

Baca Juga :  PN Yogyakarta Tutup Lapak PKL di Kawasan Gondomanan Yogyakarta, Pedagang Hanya Bisa Pasrah dan Ingin Bertemu Sri Sultan HB X

“Penanganan stunting tidak hanya dari sisi kecukupan gizi. Namun juga perlu dibudayakan hidup sehat dengan melakukan langkah kecil melalui perubahan pola hidup dan pola makan ke arah yang lebih sehat, sehingga kekurangan gizi kronis dapat diatasi.

Untuk mengatasi permasalah kurang gizi kronis tersebut tidak bisa hanya mengandalkan  peran sektor kesehatan saja,” terangnya.

Kementerian atau Lembaga Pemerintah melalui paraMenteri, Gubernur serta Kepala Daerah, dunia usaha, tokoh agama, akademisi, dan

masyarakat, diharapkan dapat memberikan dukungan, komitmen dan peran-sertanya dalam bergotong royong meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang.

Sosialisasi malam itu lebih banyak menekankan terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Dalam Rangka Penurunan Prevalensi Stunting. Sedang media wayang kulit atau pertunjukan rakyat dipilih karena memiliki sifat menghibur dan dapat menyampaikan pesan dalam suasana santai dan menyenangkan, sehingga lebih menarik perhatian masyarakat.

Baca Juga :  Kabar Duka, Seniman Kondang Djaduk Ferianto Meninggal Dunia, Butet Kartaradjasa : Sumangga Gusti

“Selain itu pagelaran pertunra juga dimaksudkan sebagai upaya untuk melestarikan kesenian tradisional yang saat ini eksistensinya mulai tergerus oleh media massa modern dan media baru. Kekuatan media tradisional sebagai media penyebaran informasi terletak pada unsur cerita dan dialog yang pesannya disampaikan secara luwes dan fleksibel sesuai dengan budaya lokal masyarakat,” tandas Wiryanta.

Di sisi lain, pertunra memiliki sentuhan yang berdimensi personal dan budaya sehingga tercipta komunikasi yang efektif dan persuasif, serta mudah diterima masyarakat. Wardoyo

Loading...