loading...
Loading...

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ada empat tokoh nasional yang mendapat ancaman bakal dibunuh dalam aksi 22 Mei 2019 lalu.

Salah satu dari tokoh tersebut adalah Staff Khusus Presiden Bidang Intelijen dan Keamanan, Gories Mere. Kapolri, Jenderal Tito Karnavian menyebut dia termasuk empat tokoh nasional yang menjadi target.

Selain Gories, mereka adalah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto; Kepala Badan Intelejen Negara (BIN), Budi Gunawan; dan Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.

Siapa sebenarnya Gories? Dia  merupakan lulusan Akademi Kepolisian tahun 1976. Dia fokus di bidang reserse dan intelijen khususnya terorisme dan narkotika.

Gories mengawali karirnya di bidang kepolisian sebagai Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Daerah Metro Jaya. Ia juga pernah duduk sebagai Direktur Reserse Polda Metro Jaya.

Karir Gories melejit ketika mantan Kepala Polri Da’i Bachtiar menunjuk dia sebagai ketua tim Ketua Tim Penyidik insiden bom bali 2002. Teror yang terjadi pada Oktober 2002 ini pun menjadi tonggak lahirnya Detasemen Khusus 88 Antiteror. Gories salah satu perwira yang ditugaskan merintis lembaga ini.

Baca Juga :  Kasus Penyelundupan di Garuda Sudah Dilimpahkan ke Pihak Berwenang

Pada tanun 2009, Gories ditunjuk sebagai Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (BNN). Nah, kala itu, Gories pernah mendapat teror berupa bom buku yang dikirimkan ke kantor BNN di Cawang, Jakarta Timur pada 15 Maret 2011.

Di tahun itu, sejumlah tokoh seperti pentolan Pemuda Pancasila Yapto Suryosumarno dan tokoh Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla juga dikirimi bom buku.

Pada Desember 2012, Gories resmi pensiun dari kepolisian. Kemudian Presiden Joko Widodo atau Jokowi menunjuk dia sebagai Staff Khusus Budang Intelijen dan Keamanan.

Baca Juga :  Penjual Nasi Goreng Tangkap Ular Kobra Karena Kepepet

Mantan Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjutak yang kini menjabat sebagai juru bicara kubu Prabowo Subianto pernah mengkritik pengangkatan itu.

Dahnil mengatakan, Gories Mere memiliki masa lalu kelam terkait terorisme sehingga tak pantas menjadi Staf Khusus Presiden.

Menurut dia, Gories kerap menggiring opini bahwa terorisme identik dengan Islam. Selain itu, Gories juga tak segan menggunakan kekerasan ketika menangkap terduga teroris.

www.tempo.co

Loading...