loading...
Loading...

KLATEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Jika Anda ingin merasakan indahnya Grand Canyon tak perlu jauh-jauh datang ke Colorado Amerika Serikat.

Cukup Anda datang ke Klaten, Jawa Tengah, sudah dapat menikmati keindahan alam layaknya Grand Canyon.

Nama tempat wisata itu terkenal dengan sebutan Green Canyon Mini Socokangsi. Plesetan dari nama Grand Canyon.

Sebelum diresmikan pada tahun 2017, Green Canyon Mini yang berada di Dusun Socokulon, Desa Socokangsi, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten sudah ramai dikunjungi wisatawan dari Solo Raya dan sekitarnya.

Sesuai namanya, obyek wisata yang dulu dikelola warga secara swadaya ini menyuguhkan kemolekan alam layaknya Green Canyon, salah satu destinasi wisata andalan di Pangandaran, Jawa Barat.

Bedanya, Sungai Gethuk yang diapit tebing batu di Green Canyon Mini Socokangsi tidak selebar dan sedalam di Pangandaran. Meski demikian, kemegahan Green Canyon Mini Socokangsi tak kalah menawan.

Sayangnya kejayaan Green Canyon Mini Socokangsi tidak bertahan lama meski warganet telah menyumbang banyak karya visual yang mempromosikan kemolekannya di media sosial.

“Hampir setahun ini sepi. Kalaupun ada pengunjung, paling cuma satu-dua,” kata Sisri, satu-satunya pedagang yang masih bertahan membuka warung di depan gardu masuk Green Canyon Mini.

Menurut Sekretaris Desa Socokangsi Prihandono, sepinya Green Canyon Mini Socokangsi karena kekurangan sumber daya pengelolanya.

“Pemuda di sini banyak yang merantau, bekerja dan tinggal di luar desa. Jadi tidak ada lagi yang mengurusi,” kata Suprandono, Kamis (16/5/2019).

Meski demikian, Green Canyon Socokangsi tetap menyimpan keindahan tebing-tebing hasil guratan alam yang bertekstur halus dan bergelombang mengikuti kontur Sungai Gethuk.

Sungai Gethuk di Green Canyon Mini Socokangsi juga masih memiliki air terjun kecil dan cekungan alami yang tidak terlalu dalam untuk sekadar berendam.

Sekitar 300 meter di selatan Green Canyon Mini Socokangsi juga terdapat dua obyek bersejarah yang menarik, yaitu Gua Gethuk dan jembatan kuno dari bekas rel lori atau kereta kecil pengangkut barang dan hasil pertanian.

“Konon, Gua Gethuk itu pernah menampung seluruh warga desa saat bersembunyi dari gempuran serdadu Belanda. Padahal gua itu sempit dan rendah. Percaya nggak percaya sih,” kata Kepala Dusun II Desa Socokangsi, Priyanto.

Adapun jembatan besi tua dari rel lori yang melintang di atas Sungai Gethuk itu merupakan bukti bahwa di Socokangsi pernah berdiri satu pabrik kopi.

Namun, pabrik peninggalan masa kolonial Belanda itu sudah tidak berbekas, tinggal menyisakan satu cerobong asap yang menjulang di antara rimbun pepohonan di barat Green Canyon Mini.

Prihandono mengatakan, tenarnya Green Canyon Mini bermula saat seorang warga yang memancing di Sungai Gethuk mengunggah foto hasil jepretannya di media sosial.

“Foto Sungai Gethuk dan tebingnya yang berkelok-kelok itu menyita perhatian warganet. Sejak itu banyak orang yang datang dan berfoto-foto. Socokangsi pun viral,” kata Prihandono.

Demi mempromosikan Green Canyon Mini Socokangsi, pengunjung tidak dipungut tiket masuk.

“Cukup bayar parkir Rp 2.000 untuk sepeda motor dan Rp 5.000 untuk mobil,” kata Prihandono.

Guna mempercantik kawasan wisata baru itu, Pemerintah Desa Socokangsi telah membangun kolam renang, toilet, gazebo, warung-warung, dan properti untuk berswafoto.

Kini, beragam fasilitas penunjang wisata yang dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDes) 2017 itu terbengkalai.

“Buat kami nggak masalah. Toh, tujuan kemari buat bermain di Sungai Gethuk dan menikmati ketenangan, keasrian, dan keindahan panorama alamnya,” kata salah satu pengunjung, Andreas, warga Kota Klaten.

www.tempo.co

Loading...