Beranda Umum Internasional UMS Lakukan Pengabdian Internasional di Masjid Jawa Bangkok, Kupas Tuntas Literasi Halal...

UMS Lakukan Pengabdian Internasional di Masjid Jawa Bangkok, Kupas Tuntas Literasi Halal Hingga Praktik Bikin Tempe

Dosen UMS Emi Erawati (kiri) saat mendampingi jamaah dan diaspora Indonesia mempraktikkan cara pembuatan tempe di Masjid Jawa, Bangkok, Thailand, Selasa (02/06/2026). Tim pengabdian masyarakat internasional UMS mengedukasi masyarakat setempat mengenai literasi produk halal sekaligus mengenalkan kandungan gizi pangan lokal Indonesia di kancah internasional.

JOGLOSEMARNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali melebarkan sayap kiprahnya di kancah internasional. Kali ini, tim dosen dari kampus yang berpusat di Surakarta tersebut sukses menggelar program Pengabdian Masyarakat Kemitraan Internasional di Masjid Jawa, yang berlokasi di Soi Charoen Rat 1 Yaek 9, Yan Nawa, Sathon, Bangkok, Thailand, pada Selasa (2/6/2026) lalu.

Mengusung tema besar “Halal Literacy and Healthy Lifestyles for Thailand’s Java Mosque”, agenda ini disambut dengan antusiasme yang luar biasa. Tercatat, sebanyak 30 peserta hadir memadati ruang pertemuan. Mereka merupakan perwakilan dari jamaah Masjid Jawa, Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Thailand, komunitas Ngajiko, serta para diaspora Indonesia yang tengah merantau di Negeri Gajah Putih.

Suasana hangat langsung terasa sejak awal acara, khususnya saat Imam Masjid Jawa, Imam Sayyid, memberikan sambutan pertamanya. Dengan penuh keramahan, ia menyambut kedatangan rombongan dari Solo Raya ini dan menerima vandel serta cinderamata khas UMS sebagai simbol eratnya tali silaturahmi antarnegara.

Ketua PCIM Thailand, Andi Subhan Husain, dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur dan apresiasi yang mendalam atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia membeberkan bahwa momen ini merupakan sebuah tonggak sejarah baru bagi syiar Islam dan budaya Indonesia di sana.

“Beberapa kampus Indonesia memang telah mengadakan Pengabdian Masyarakat dan bekerja sama dengan PCIM Thailand. Namun, Pengabdian Masyarakat Kemitraan Internasional ini merupakan yang pertama kali sepanjang sejarah dilaksanakan langsung di Masjid Jawa,” ujar Andi dengan nada bangga.

Memasuki sesi inti, para peserta disuguhi materi edukatif yang sangat dekat dengan lidah orang Indonesia, yaitu penganan tempe. Mengangkat judul “Tempeh as Source of Halal Food”, materi ini dikupas tuntas oleh Emi Erawati.

Secara interaktif, Emi membedah potensi besar tempe sebagai sumber makanan halal yang kaya akan kandungan gizi, hingga menjelaskan tahap demi tahap proses pembuatannya. Menariknya, Emi juga menyelipkan secarik kisah sejarah yang jarang diketahui orang awam untuk memantik rasa penasaran peserta.

Peserta berpose usai pelatihan pembuatan tempe dan edukasi kesehatan di Soi Charoen Rat 1 Yaek 9, Yan Nawa, Sathon, Bangkok, Thailand, pada Selasa (2/6/2026) lalu.

“Tahu tidak, pada tahun 1912 silam, Ryoji Nakazawa yang merupakan seorang ahli mikrobiologi asal Jepang, adalah orang Jepang pertama yang getol mempelajari tempe. Saat itu, beliau bekerja di Laboratorium Penelitian Pusat Kantor Komisaris Tinggi Taiwan. Beliau sampai meminta seseorang dari Asia Tenggara untuk membawakan sampel tempe dan oncom untuk kemudian dianalisis mikroorganismenya,” cerita Emi yang langsung diikuti dengan praktik langsung pembuatan tempe bersama peserta.

Tak hanya urusan perut dan kuliner halal, edukasi kemudian bergeser pada pentingnya menjaga kesehatan keluarga. Anika Candrasari didapuk menjadi pembicara kedua dengan membawakan materi bertajuk “Halal and Thoyib Simple Steps for a Healthy Family”.

Mengingat sebagian peserta merupakan warga lokal, penyampaian materi ini dibantu oleh seorang penerjemah ke dalam bahasa Thailand agar pesan yang disampaikan bisa meresap sempurna. Pada kesempatan tersebut, Anika membagikan sebuah rumus praktis penataan pola makan demi menangkal berbagai penyakit modern.

“Untuk menjaga kesehatan tubuh, kami sangat menganjurkan penerapan pola makan dengan rumus 4-1-5. Artinya, dalam sehari kita sebaiknya mengonsumsi maksimal 4 sendok makan gula, 1 sendok makan garam, dan 5 sendok makan minyak,” papar dr. Anika secara gamblang.

Ia juga mengingatkan bahwa lingkar pinggang merupakan parameter utama untuk mengukur obesitas sentral (penumpukan lemak berbahaya di perut). Ini adalah cara skrining paling sederhana untuk melihat kesehatan metabolisme kita. Batas aman lingkar pinggang yang sehat adalah maksimal 90 cm untuk laki-laki dan 80 cm untuk perempuan.

Sebelum gelaran acara internasional ini resmi ditutup, tim pengabdian UMS tidak membiarkan peserta pulang begitu saja tanpa mengetahui status kesehatan mereka. Acara diakhiri dengan aksi nyata berupa skrining kesehatan gratis, di mana para peserta satu per satu diukur lingkar pinggangnya guna memastikan apakah mereka sudah masuk dalam kategori hidup sehat atau harus mulai waspada. (*)

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.