loading...
Loading...

JAKARTA, Joglosemarnews.com – Setelah bertemu dengan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) melakukan pertemuan dengan beberapa tokoh nasional dan 8 kepala daerah.

Pertemuan itu berlangsung di  di Museum Balai Kirti, Bogor, Jawa Barat, Rabu (15/5/2019). Pertemuan dilakukan dengan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid dan delapan kepala daerah.

Dalam pertemuan tersebut, AHY bertindak selaku Direktur The Yudhoyono Institute.

“Jadi sebenarnya di daerah-daerah, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, NTB, ada fenomena kegelisahan yang sama. Itu terbaca di akar rumput di media, di medsos,” kata Ridwan Kamil.

Ridwan Kamil atau akrab disapa Emil mengatakan bahwa AHY, Yenny dan para kepala daerah menginginkan adanya perdamaian pascapemilu. Jika hanya satu orang yang menggaungkan perdamaian itu, kata dia, tidak akan maksimal.

Baca Juga :  Jokowi Pastikan 2023 Ibukota Pindah, Atau Maksimal 2024

“Akhirnya atas insiasi Kang Bima (Wali Kota Bogor Bima Arya) karena Bogor tempat yang paling pas ingin mengisi ruang-ruang informasi mulai hari ini, besok, sampai tanggal 22 jangka panjang dengan infomasi-informasi menyejukan dari para pemimpinnya,” kata dia.

Emil mengatakan, AHY, Yenny dan para kepala daerah sepakat akan memberikan informasi yang membawa gagasan kerukunan perdamaian untuk melawan ruang-ruang informasi yang terlalu tegang dan melelahkan. Tujuannya agar bangsa Indonesia bisa maju terus menghadapi masa depan yang lebih baik.

Terkait hasil Pemilu, Emil mengatakan bahwa para tokoh sepakat memberikan kesempatan bagi ruang aturan dan hukum untuk menyelesaikan perbedaan.

Baca Juga :  Berikan Obat Kadaluwarsa Pada Ibu Hamil, Bidan Diperiksa Polisi

“Perbedaan itu sunatullah pasti ada saja. Tapi kita biasakan kehidupan berbangsa dan bernegara menyelesaikan perbedaan melalui kesepakatan aturan dan hukum yang sudah ada. Biarkan itu menjadi panglima yang terakhir,” kata Emil.

AHY mengungkapkan bahwa para tokoh yang hadir menangkap berbagai keresahan dan kekhawatiran masyarakat di berbagai daerah situasi nasional pascapemilu 2019.

Ia mengatakan bahwa pada 17 April 2019 diharapkan bangsa Indonesia kembali merajut persaudaraan dan memaafkan setelah terlibat dalam proses kompetisi politik.

“Tetapi apa yang terjadi tentu kita rasakan bersama bahwa benih-benih perselisihan tetap tersemai dan ini tentu kita tidak harapkan. Karena bagaimanapun kita ingin Indonesia tetap utuh,” kata AHY.

Baca Juga :  Video 3 Lawan 1 Vina Garut, Kisah Pilu V Turuti Kemauan Suami Jika Ditolak Dimarahi & Terpaksa Menikmati

Menurut AHY, jangan sampai karena kompetisi politik, polarisasi terjadi. Apalagi diakibatkan perbedaan identitas suku, agama, ras, dan etnis yang hanya akan merugikan persatuan bangsa.

Ia mengatakan bangsa Indonesia tidak akan bisa maju jika saling terbelah. Karena itu, ia berharap pertemuan dengan Yenny Wahid dan 8 kepala daerah menginspirasi masyarakat.

“Walaupun kita semua memiliki pandangan, referensi, dan pilihan politik yang berbeda-beda, bahkan dalam keluarga pun ada perbedaan antara persahabatan juga sering kita temukan perbedaan yang fundamental, tetapi jangan sampai itu semua kita kemudian kita jadikan permusuhan itu abadi,” kata AHY.

www.tempo.co

Iklan
Loading...