loading...
Loading...
Kondisi pos lantas Bulu di jalur Solo-Sragen tepatnya di Bulu, Purwosuman, Sidoharjo tampak lengang usai ditutup operasionalnya baru-baru ini oleh Polres Sragen. Foto diambil Rabu (1/5/2019)

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Penutupan dua Pos Lantas di jalur utama Sragen yakni Pos Bulu di Jalan Sragen-Solo Dukuh Bulu, Sidoharjo dan Pos Jati di Jalur Sragen-Ngawi Desa Jati Sambungmacan, menuai polemik di masyarakat.

Sejumlah pihak menyayangkan kebijakan penutupan dua pos itu menjelang arus mudik dan balik. Pasalnya dua pos itu dinilai masih penting untuk kepentingan kesiagaan terhadap penanganan kecelakaan maupun kriminalitas.

Terlebih, dua pos itu sudah berdiri puluhan tahun dan dinilai penting di jalur Solo-Sragen dan Sragen-Ngawi yang masih dua jalur dan dikenal padat serta rawan kecelakaan.

“Kami terus terang enggak setuju Pos Bulu ditutup. Karena jalur di sepanjang Pungkruk-Masaran itu jalur sangat rawan kecelakaan. Lalu di Bulu itu juga dilalui buruh banyak pabrik dan padat jika jam-jam pagi atau siang. Kerawanan sangat tinggi, apalagi menjelang arus mudik nanti pasti arus tambah padat,” ujar Danang, salah satu tokoh di Sidoharjo, Jumat (17/5/2019).

Senada, pandangan serupa juga disampaikan tokoh satpam di salah satu pabrik di dekat lokasi pos. Sutarno, satpam di pabrik dekat Pos Bulu, juga mengatakan tak setuju jika Pos Bulu ditutup.

Sebab selama puluhan tahun berdiri, kehadiran personel di pos itu dinilai sangat membantu mengurai kepadatan ketika jam pagi dan siang. Lebih dari itu, lokasi pertigaan bulu juga sangat rawan karena menjadi terminal angkuta serta banyak dilalui kendaraan pabrik.

Baca Juga :  Ogah Tersandera PDIP, PKB Sragen Tegaskan Tak Akan Dukung Yuni-Dedy. Mengaku Siapkan Koalisi dan Paslon Baru Lawan Petahana

“Harapannya Pos Bulu itu kalau bisa tetap dipertahankan. Jalur di Pungkruk-Masaran kan juga masih dua jalur sehingga kalau arus mudik dan balik mesti tambah ramai. Selama ini juga kerawanan kecelakaan sangat tinggi. Ketika ada pos Lantas jika ada kecelakaan kan bisa tertangani dengan cepat. Kalau harus menunggu dari Sragen atau Polsek agak jauh,” timpal Nardi, salah satu buruh asal Sragen yang bekerja di Karanganyar dan beberapa kali melihat kecelakaan di sepanjang jalur Sragen-Masaran.

Persoalan pos itu juga sering difungsikan untuk titik razia kendaraan, menurutnya hal itu tidak masalah. Menurutnya masyarakat sudah mulai sadar dan harus siap untuk kena razia jika tak lengkap atau tertib.

“Tidak di pos Lantas saja, di jalan pun kalau enggak lengkap surat kendaraan atau nggak tertib, mesti juga was-was. Nggak tenang kalau-kalau ada razia,” tuturnya.

Dua pos polisi di jalur utama Sragen itu memang ditutup belum lama ini oleh Polres Sragen. Kapolres Sragen, AKBP Yimmy Kurniawan ditemui usai menghadiri deklarasi damai pasca pemilu di Gedung Kartini Selasa (30/4/2019), Kapolres tak menampik penutupan dua pos Lantas itu.

“Pos polisi di Bulu dan Jati itu ditutup memang untuk efisiensi. Kita kurangi personelnya, kami strong poinnya ke Pos lantas Gemolong,” papar Kapolres.

Baca Juga :  Sragen Masuk Zona Merah Kemiskinan, Wagub Taj Yasin Sebut di Beberapa Desa Ada 400 KK Miskin 

Ia menguraikan penutupan dua pos lantas di daerah rawan laka itu juga didasari pertimbangan karena intensitas arus disinyalir berkurang sejak adanya tol.

Menurutnya keberadaan pos polisi di dua titik itu menjadi tidak efektif sekali ketika disinyalir lalu lintas sudah berkurang banyak.

“Bulu tidak efektif karena hanya nunggu pabrikan keluar, kan nggak pas. Di Jati sekarang sepi sekali, gelap sekali. Kalau dulu memang efektif untuk mengantisipasi bajing loncat,” tandasnya.

Kapolres menambahkan penarikan personel di dua pos itu juga untuk persiapan penebalan kekuatan di pos terpadu perbatasan Ngawi dan beberapa pos terpadu lainnya. Ia membantah penutupan pos itu terkait dengan Pemilu.

“Tidak ada kaitannya dengan itu. Wacananya sudah kemarin-kemarin, cuma baru sempat sekarang. Kemarin enggak sempat,” tandasnya. Wardoyo

 

Loading...