loading...
Loading...
Tribunnews

SLEMAN, Joglosemarnews.com – Warga si Dusun Warak Kidul, Desa Sumberadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman memiliki tradisi yang unik dan adiluhung.

Salah satu tradisi tersebut dinamai Kirab Wening Wengi. Sesuai namanya, kirab tersebut dilakukan malam hari. Kirab diikuti oleh ratusan orang.

Mula-mula, dengan mengenakan pakaian tradisional mereka berkumpul di halaman sebuah pendapa. Ada yang mengenakan sarung dan pula yang memakai blangkon.

Sekitar pukul 21.30, mereka berbaris berbanjar. Lampu pendapa dipadamkan, gelap.

Sebatang oncor bambu dinyalakan, kemudian menyambung pada oncor-oncor lain yang dibawa warga.

Baca Juga :  Penjual Cilok di Yogyakarta ini Nekat Remas Bagian Vital Wisatawan Perempuan Asal Cilacap di Kawasan Pasar Ngasem

Kentongan dipukul tukk tukk tukk, pukulan tiga kali artinya berjalan. Mendengar bunyi kentongan, warga pun berjalan.

Mereka berjalan mengelilingi kampung Warak Kidul, tanpa berbicara sama sekali.
Itulah kirab Wening Wengi, satu dari rangkaian acara Merti Dusun Warak Kidul.

Seksi Acara Merti Dusun Warak Kidul, Albertus Fani Prasetyawan mengatakan, melalui kirab Wening Wengi warga diajak untuk merefleksikan hubungan antara diri sendiri dengan sang pencipta.

Dalam kitab tersebut warga diminta untuk tidak berbicara sama sekali.

“Tujuannya adalah untuk introspeksi diri, merefleksikan ke dalam diri sendiri dan sang pencipta. Dengan kirab ini, warga diajak untuk mengerti hubungan kita dengan sesama dan terutama pada Tuhan,” katanya di Dalem Padmowarsito, Sabtu (22/6/2019) malam.

Baca Juga :  Pertanian dan Manufaktur Jantung Perekonomian Solo Raya

Kirab diawali dari Dalem Padmowarsito, dilanjutkan ke tiga makam yang ada di daerah Warak Kidul, kemudian menuju ke gereja, dilanjutkan ke masjid, dan berakhir kembali di Dalem Padmowarsito.

“Di makam warga masuk kemudian menabur bunga. Setelah itu nanti berjalan ke gereja dan masjid. Di gereja dan masjid ada penyerahan gunungan secara simbolis pembukaan Merti Dusun,” sambungnya.

Baca Juga :  Heboh, Underpass Kentungan Jogja Runtuh Lahap 2 Mobil

Selain untuk introspeksi diri, Kirab Wening Wengi juga mengajak warga untuk membangun kerukunan antarumat beragama dan menjaga kebersamaan antarwarga.

Salah satu peserta, Paulus Andrianto (20) mengaku baru pertama kali mengikuti kirab Wening Wengi.

Ia merasa penasaran sebab kirab dilakukan malam hari.

“Baru pertama kali ikut, karena penasaran kok kirab dilakukan malam hari. Untuk kirab juga harus diam, jadi tertarik ikut. Selain itu juga untuk berpartisipasi dan ikut melestarikan budaya. Saat ini peserta juga pakai baju tradisional,” tambahnya.

www.tribunnews.com

Iklan
Loading...