loading...
Loading...
Tempo.co

JAKARTA, Joglosemarnews.com – Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), Hasyim Asya’ri mengatakan, jika penggugat tak mampu membuktikan adanya penggelembungan suara  sebagaimana dituduhkan, hal itu afalah konyol.

KPU sendiri, ujar Hasyim, menyatakan heran dengan tuduhan telah melakukan pengelembungan hingga puluhan juta suara dalam Pemilihan Presiden 2019.

Dia  mengatakan bahwa Pemilu 2019 dilakukan serentak antara pilpres dan pemilu legislatif, maka pemilih yang terdaftar juga sama.

“Kalau kemudian ada tuduhan suara siluman, (kok) sementara ini (dalam) gugatan pemilu DPR nggak ada yang menuduhkan pemilih siluman berjumlah puluhan juta itu,” ujar Hasyim di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jumat (14/6/2019).

KPU menilai sah saja ada permohonan sengketa hasil Pilpres 2019.

Baca Juga :  Gasak 52 Motor dalam 2 Bulan, 2 Pelaku Curanmor Ini Dibekuk Polisi

“Asal bisa membuktikan. Tapi kalau gak bisa membuktikan, kan, konyol!” ujarnya.

Sebelumnya,  tim kuasa hukum pasangan calon 02 Prabowo – Sandiaga Uno mengklaim menemukan penggelembungan suara pada pemilihan presiden 2019 yang menguntungkan pasangan 01 Jokowi – Ma’ruf Amin.

Klaim temuan itu tertuang dalam berkas gugatan sengketa perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) ke Mahkamah Konstitusi yang diunggah di situs mkri.go.id.

“Fakta didapat dari indikasi dan analisa adanya suara tak sah sangat besar jika dibandingkan suara tidak sah pada pemilihan DPD RI dengan Presiden RI.” Tudingan itu tercantum dalam berkas gugatan sengketa pemilu.

Baca Juga :  Anggotanya Jalan Kaki Sumsel-Jakarta, Ketua GP Ansor Sindir Tokoh yang Janji Jalan Yogya-Jakarta

Tim kuasa hukum Prabowo – Sandiaga mengklaim perolehan suara yang benar ialah 63.573.169 untuk Jokowi – Ma’ruf dan 68.650.239 atau 52 persen untuk Prabowo – Sandiaga. Sedangkan angka perhitungan KPU sebelumnya berturut-turut ialah 85.607.362 dan 68.650.239.

Ketua Tim kuasa hukum Prabowo-Sandiaga, Bambang Widjojanto; sebelumnya juga mengeluarkan rilis bahwa mereka menemukan fakta terjadinya penggerusan dan penggelembungan suara dalam proses Pemilu Presiden 2019.

Berdasarkan hitungan tim informasi dan teknologi (IT) internal, kata pria yang akrab disapa BW, ada penggerusan suara paslon 02 sebesar lebih dari 2,5 juta dan penggelembungan suara paslon 01 sekitar 20 juta.

Baca Juga :  Febri Berharap Calon Pimpinan KPK yang Bermasalah Jangan Sampai Lolos

“Sehingga perolehan sebenarnya untuk suara pasangan 01 sekitar 62.886.362 atau 48 persen dan suara untuk pasangan 02 sekitar 71.247.792 atau 52 persen,” kata BW melalui keterangan tertulisnya, Jumat (14/6/2019).

Dia menjelaskan proses itu diduga dilakukan dengan menggunakan teknologi informasi dengan ditemukannya indikasi proses rekayasa.

Hal itu, kata Bambang sekaligus adjustment atas perolehan suara yang sedari awal sudah didesain dengan komposisi atau target tertentu dengan menggunakan sistem IT.

Berdasarkan fakta itu, dia menuntut pemeriksaan form C1 di Mahkamah Konstitusi harus selangkah lebih maju dengan memperhatikan, melibatkan dan menggunakan IT.

www.tempo.co

Iklan
Loading...