JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Larangan Jualan Sate Anjing di Karanganyar Bikin Puluhan Pedagang Terbelah. Sebagian Tolak Kompensasi Rp 5 Juta 

Puluhan pedagang sate anjing Karanganyar saat menggeruduk dan beraudiensi dengan bupati, Kamis (20/6/2019). Foto/Wardoyo
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Puluhan pedagang sate anjing Karanganyar saat menggeruduk dan beraudiensi dengan bupati, Kamis (20/6/2019). Foto/Wardoyo

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM Kebijakan penutupan semua warung sate anjing yang diserukan Pemkab Karanganyar memicu pro kontra. Tawaran kompensasi Rp 5 juta untuk alih jualan membuat puluhan pedagang satr anjing dan rica guguk di Karanganyar terbelah.

Sebagian menolak tawaran kompensasi tutup warung dan akan tetap berjualan. Sementara sebagian lagi menerima dan siap beralih jualan menu lain.

Hal itu terungkap ketika digelar audiensi para pemilik warung sate anjing dengan bupati Karanganyar di rumah dinas bupati, Kamis (20/6/2019).

Baca Juga :  Kecelakaan Maut di Kemuning Karanganyar, Minibus Pengangkut Rombongan Pendaki Hantam Tebing Lalu Terjerembab di Selokan. Satu Penumpang Tewas, 2 Luka-Luka

Suwanto (50) salah satu penjual kuliner anjing di kawasan Palur menolak kebijakan bupati. Menurutnya jika memang Pemkab Karanganyar melarang maka harus memiliki landasan hukum yang kuat.

“Larangan ini kan hanya mengacu surat edaran dari Dirjen kesehatan. Itu salah Mas. Harusnya ada Perda pelarangan seperti daerah lain. Tidak serta merta eksekutif melakukan pelarangan menjual sate anjing. Harus ada Perdanya.  Saya akan koordinasikan dengan teman lainnya untuk mengadu ke DPRD. Untuk sementara, saya tetap berjualan,” paparnya seusai audiensi.

Baca Juga :  Kecelakaan Tragis di Matesih Karanganyar, Pemotor Nyungsep dan Nyemplung Sungai Yang Sedang Banjir.  Sepeda Motor Hanyut Terbawa Arus

Pendapat berbeda disampaikan Pitut Tri Haryono (54). Pria yang sudah lima tahun menjual masakan dari daging anjing ini mengaku siap menerima tawaran dari bupati.

“Ikut pemerintah aja Mas. Nanti ganti dagangan. Jual soto atau apalah,” katanya.

Dari sekitar 37 pemilik warung sate anjing dan kuliner berbahan daging guguk yang hadir, sebagian memang menerima. Namun sebagian lagi tetap menolak dan memilih keluar ruangan. Wardoyo