loading...
Wihaji. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Tutup tahun ajaran 2019 menjadi momentum spesial bagi MTs N 4 Sragen. Pasalnya MTs N yang berlokasi di Kecamatan Plupuh itu sukses menorehkan sejarah dengan mencetak siswa peraih nilai UN 100.

Kebanggaan juga membuncah lantaran pelepasan siswa-siswi kelas IX Tahun Pelajaran 2018/2019 Sabtu (15/6/2019) lalu juga kedatangan tamu istimewa.

Ya, dia adalah Bupati Kabupaten Batang Wihaji. Siapa sangka, orang nomor satu di Pemkab Batang Jawa Tengah itu tak hanya punya darah kelahiran di Plupuh Sragen.

Namun dia juga pernah mengenyam bangku pendidikan di Plupuh. Dan sekolah pelahir bupati bersahaja itu adalah MTs Negeri 4 Sragen.

Sebagai bentuk penghormatan, Kasek MTSN 4, Sumanto memberikan waktu khusus kepada Bupati Batang, Wihaji sebagai alumni MTsN 4 Sragen memberikan motivasi pada siswa -siswi dan wali murid menyampaikan bahwa tugas orang tua itu mendidik anak.

“Entah besok itu anak mau jadi apa kita serahkan pada Allah. Begitu pun juga dengan anak untuk terus semangat menimba ilmu pada jenjang lebih tinggi lagi,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Bupati kelahiran Ngrombo, Plupuh itu juga berkenan memberikan penghargaan pada siswi peraih nilai 100 baik UNBK ataupun UAMBN BK masing – masing Rp 1,5 juta untuk peraih nilai 100 UNBK dan Rp 1 juta untuk peraih nilai 100 UAMBN BK.

Selain memberikan pada siswa berprestasi, Wihaji juga memberikan bonus pada GTT dan PTT di MTsN 4 Sragen.

Sosok Wihaji barangkali masih terlihat kurang familiar di publik Sragen. Sempat muncul di Pileg 2014 sebagai caleg DPR RI Golkar Dapil Jateng IV (Sragen-Karanganyar-Wonogiri), impiannya mengabdi lewat kursi senayan pupus setelah kalah tipis di perolehan suara.

Baca Juga :  Tiga Patung dan Tugu PSHT di Sragen Dilaporkan Jadi Sasaran Pengrusakan. Dua Patung Dirobohkan, Satu Tugu Dirusak

Namun,  rupanya Allah menuliskan garis hidup yang lain untuknya. Ya,  Wihaji, pria dari keluarga sederhana di Desa Ngrombo, Plupuh, Sragen, itu secara fenonenal mampu menorehkan sejarah dengan terpilih sebagai Bupati di Kabupaten Batang, pada Pilkada serentak 5 Februari 2016 lalu.

Bupati Batang, Wihaji, saat berpose di rumah dinasnya di Batang. Foto/JSnews

Saat diwawancara JOGLOSEMARNEWS.COM pun, Wihaji terlihat tak banyak berubah. Ia langsung menyapa dengan nada bicara bersahaja khas anak desa.

Pria tiga anak kelahiran 22 Agustus 1976 itu memang mengaku tak menyangka bisa terpilih menjadi pemimpin di luar tanah kelahirannya.

Pasalnya, selain bukan asli Batang, ia menyadari bahwa dirinya maju Pilkada Batang hanya bermodalkan penugasan dari DPP Golkar.

Sementara ia dilahirkan bukan dari kalangan berada atau pejabat melainkan dari keluarga sederhana dengan finansial jauh dari kata mumpuni. Wihaji menuturkan bapaknya, Parjiyo (70) hanyalah pensiunan PNS sedangkan ibunya, Parmiatun (65) hanya ibu rumah tangga.

“Saya sendiri juga nggak tahu. Tapi mungkin ini jalan dari Gusti Allah sama saya. Kebetulan istri saya orang Batang, keluarga banyak di sana. Ketika tiba-tiba DPP menugaskan saya jadi calon bupati, saya sempat merenung, orangtua setuju, Alhamdulilah rakyat ternyata juga mendukung,” tuturnya.

Sulung dari empat bersaudara itu menuturkan penunjukkannya maju ke Pilkada Batang itu juga karena memang dirinya pernah punya riwayat politik maju Caleg DPR RI dari Dapil Jateng V meski akhirnya kandas.

Sebelumnya, di Pileg 2014, ia juga maju Caleg DPR RI dari Dapil Jateng IV (Sragen-Karanganyar-Wonogiri), juga nyaris terpilih.

Karenanya, ia memandang kemenangannya yang berpasangan dengan Ketua DPC PPP Batang, Suyono, sedikit terasa di luar dugaan. Terlebih meski hanya diusung koalisi Golkar-Hanura-PPP, perolehan suaranya yang

Baca Juga :  Terus Meroket, Jumlah ODP Corona Sragen Tambah 10 Orang, Jumlah PP Naik 511 Orang Jadi 2.216. Kesadaran Karantina Rendah, Bupati Sampai Ingatkan Nek Nggak Bisa Bakdo, Nggak Bisa Sungkem Wong Tuwo Lho!

mencapai 56,6 persen, mengungguli tiga paslon termasuk dari koalisi parpol lebih besar yakni PDIP-Gerindra yang hanya meraih 26 persen suara.

“Saya sendiri kaget. Karena di awal isu menolak bukan putra daerah itu luar biasa kuat, tapi saya pokoknya Bismillah saja niatnya ngibadah. Pokoke bismilah njaluk tulung karo warga pokoknya ayo mbangun bareng-bareng,” jelasnya.

Perihal kisahnya suksesnya itu, ia hanya berpesan bahwa segala sesuatu akan bisa diraih jika berusaha dengan sungguh.

Ia juga menggambarkan apa yang dilakoninya itu setidaknya bisa member inspirasi bahwa warga Sragen yang punya potensi, kelebihan dan cita-cita politik dan mengabdi tidak harus diwujudkan di Sragen.

Wihaji menggaransi tidak akan banyak berubah dan tetap akan menjadi dirinya meski kini sudah menjadi bupati. Ia juga mengaku tidak akan melupakan Sragen sebagai tanah kelahirannya sampai kapan pun.

“Ya masih akan seperti itu. Aku kan wong ndeso, uripe biasa sederhana, bukan anake pejabat Mas. Nggak akan berubah lah. Tapi nanti tetap sesekali ke Sragen sowan orangtua. Ya enggak mungkin lah melupakan Sragen.  Karena saya dilahirkan di Sragen,  orangtua saya di Sragen,” jelasnya. Wardoyo