JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Tiga Bocah Ngamen di Bawah Teriknya Sinar Matahari di Jalan Pantura Pemalang-Pekalongan. Salah Satunya Ingin Belikan Baju Lebaran Ibunya

Juli Hardi (kanan), bersama Muhammad Lilik (tengah) dan Ujang Taulani (kiri) saat ditemui Tribunjateng.com di Interchange Gandulan Pemalang, Senin (3/6/2019). Tribun Jateng/ Budi Susanto
madu borneo
madu borneo
madu borneo

Juli Hardi (kanan), bersama Muhammad Lilik (tengah) dan Ujang Taulani (kiri) saat ditemui Tribunjateng.com di Interchange Gandulan Pemalang, Senin (3/6/2019). Tribun Jateng/ Budi Susanto

PEMALANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Di bawah terik matahari tiga anak laki-laki di pinggir Jalan Pantura Pemalang-Pekalongan sembari menenteng ukulele.

Mereka berjalan tanpa alas kaki dan tampak tidak merasakan panasnya aspal jalan Pantura.

Lagu-lagu populer dan dangdut mereka lantunkan di perempatan sekitar Interchange Gandulan Pemalang.

Jari-jari tangan mereka nampak lihai memainkan ukulele yang mereka bawa.

Ketiganya merupakan siswa sekolah dasar di Desa Mulyoharjo Kecamatan Pemalang.

Walaupun mencari uang dengan cara mengamen, namun ketiganya masih aktif sebagai pelajar.

Satu di antara bocah itu berharap, uang hasil mengamen bisa untuk membeli baju Lebaran untuknya dan sang ibu.

Baca Juga :  Cegah Pencegahan Penyebaran Virus Corona, Grab Luncurkan Layanan Digital

“Hampir tiga tahun saya ngamen di jalanan, meski demikian saya tetap sekolah,” kata Juli Hardi (10) satu di antara pengamen cilik itu, Senin (3/6/2019).

Dilanjutkannya, ia bersama dua rekannya Muhammad Lilik (12), dan Ujang Taulani (10) hanya ngamen hingga pukul 12.00 WIB.

“Kebetulan ini sudah libur jadi kami ngamen dari pagi hari, kalau waktu sekolah, sepulang sekolah kami ngamen hingga sore hari,” tuturnya.

Juli mengaku uang hasil ngamen untuk membantu orangtuanya yang berdagang kangkung di desa.

“Sehari bisa dapat Rp 30 ribu. Untuk Lebaran ini saya ingin membeli baju lebaran untuk saya dan ibu saya, yang hingga kini belum terbeli,” katanya.

Baca Juga :  Jelang Cuti Bersama, Salatiga Perketat dan Maksimalkan Pengawasan Para Pemudik

Bocah kelas IV SD itu menuturkan, punya cita-cita menjadi pilot, untuk itu ia tak mau putus sekolah.

“Bagi teman-teman yang lebih dari kami, jangan ikuti jejak kami. Kami juga ingin pintar, namun karena keterbatasan ekonomi kami di jalanan,” imbuhnya.

Sementara itu, Muhammad Lilik mengaku hingga kini ketakutan jika melihat petugas berseragam.

“Kami pernah tertangkap Satpol PP saat ngamen, kami takut sampai sekarang. Sebenarnya kami juga tidak ingin ngamen, namun karena tidak ada yang membiayai sekolah kami terpaksa mencari uang di jalan,” tambahnya.

www.tribunnews.com