loading...
Loading...
Ilustrasi cek gula darah diabetes. pexels

JOGLOSEMARNEWS.COM – Salah satu penyakit terbesar yang diderita masyarakat di Indonesia adalah diabetes. Berdasar data Kementerian Kesehatan 2017 setidaknya 10,3 juta penduduk Indonesia adalah pasien diabetes. Dan yang mengejutkan 7,5 persen dari data tersebut adalah anak berusia 10-14 tahun.

Diabetes yang diderita anak biasanya tipe 1. Penyakit ini muncul karena adanya gangguan pada fungsi pankreas, sehingga pankreas tidak mampu menghasilkan insulin dalam jumlah cukup. Insulin adalah hormon yang membantu tubuh menyerap gula atau glukosa agar kadar gula darah terkontrol.

Ada kekahawatiran tersendiri pada anak yang mengidap diabetes. Sebab, apabila tidak ditangani dengan tepat, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi dan berujung pada kematian. Untuk itu, penting bagi orang tua untuk mengetahui apakah anak menderita penyakit ini atau tidak.

Ketua Umum PB Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Dr. Ketut Suastika, Sp.PD-KEMD membagikan beberapa cara mudah untuk mengindikasinya. Ini dapat dilakukan dengan cara 3P, yakni poliuria, polidipsia, dan polifagia.

Baca Juga :  Viral Video Balita Sedang Tidur Pulas Dibangunkan Paksa Demi Ulang Tahun, Netizen Berkomentar Negatif, Ini Kata Dokter

“Poliuria berhubungan dengan peningkatan intensitas buang air kecil. Sedangkan untuk polidipsia dan polifagia, dikaitkan dengan rasa haus dan rasa lapar yang meningkat,” katanya dalam acara Peluncuran Aplikasi DEEP di Jakarta pada Senin, 1 Juli 2019.

Ketut mengatakan, saat terjadi peningkatan gula darah, glukosa akan dibuang lewat ginjal yang ditandai dengan keluarnya air. Sehingga tak heran, anak yang mengalami diabetes awalnya akan sering buang air kecil atau poliuria. “Jadi kalau dia sudah mengalami ini, berarti indikasi pertama untuk diabetes sudah bisa Anda lihat,” katanya.

Ia mengatakan, terlalu banyak buang air kecil akan menciptakan rasa haus yang abnormal. Dengan demikian, ia akan cenderung banyak minum untuk menangkal polidipsia. “Minum normalnya 8 hingga 10 gelas sehari. Kalau dia lebih dari itu, bisa jadi indikasi lain yang berkelanjutan dari poliuria,” katanya.

Kemudian, karena kalori yang dikonsumsi juga tidak bisa melewati proses metabolisme sebab tak ada insulin untuk membantu prosesnya. Kalori pun akan hilang dalam urine. Dengan demikian, tubuh tidak bisa memecah energi sehingga rasa lapar atau polifagia pun terus timbul.

Baca Juga :  Viral Video Balita Sedang Tidur Pulas Dibangunkan Paksa Demi Ulang Tahun, Netizen Berkomentar Negatif, Ini Kata Dokter

“Tadi sudah banyak buang air kecil, sering minum dan sekarang senang makan tapi tidak gendut karena energi terus terbuang. Sudah bisa dipastikan ini gejala diabetes,” kata dia.

Hal yang harus dilakukan orang tua ketika mendapati anak dengan gejala ini adalah membawanya ke dokter agar segera mendapat perawatan.

www.tempo.co

Loading...