loading...
Loading...
Tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Dalam kiprahnya di jaringan teroris Jamaah Islamiah (JI),  Para Wijayanto  ternyata memiliki banyak nama samaran.

Beberapa nama yang sering dipakai adalah Abang alias Adji Pangestu alias Abu Askari alias Ahmad Arief alias Ahmad Fauzi Utomo.

Demikian diungkapkan oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo.

Dia menjelaskan, Para yang ditangkap oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri pada 28 Juni 2019, memiliki rekam jejak cukup panjang selama bergabung di JI. Ia berkecimpung di dunia terorisme sejak sebelum tahun 2000.

Dedi Prasetyo mengatakan, pada tahun 2000, Para kembali ke Indonesia usai menyelesaikan pelatihan militer terorisme di Moro, Filipina.

“Dia alumni pelatihan militer di Moro, angkatan ke-3. Dari situ dia aktif di dalam struktur organisasi terorisme JI,” kata Dedi di kantornya, Jakarta Selatan pada Senin (1/7/2019).

Para, kata Dedi, selama menjalani pelatihan militer di Moro, memiliki kemampuan kuat di bidang intelijen hingga merakit bom. Dia bahkan menjadi salah satu kader terbaik JI asal Indonesia.

Para mengawali aksi terornya pada 24 Desember 2000. Dia terlibat dalam serangan teror bom sejumlah gereja pada saat natal. Saat itu, Para beraksi bersama Umar Patek.

Lalu pada 2002, Para terlibat aktif di dalam teror bom bali I. Dalam insiden tersebut 202 orang tewas dan 209 orang lainnya luka-luka. Diakui Dedi, Para memiliki kemampuan militer dan merakit bom yang sangat baik. Apalagi, Para pernah bergabung dengan Noordin M Top dan Ali Ashari.

Baca Juga :  Menristek: Dana Riset Tahun 2020 Sekitar Rp 30 T

Tiga tahun kemudian atau pada 2005 sampai 2007, Para terlibat dalam kerusuhan di Poso Sulawesi Tengah yang menewaskan 14 warga sipil dan dua anggota Polri.

“Setelah aksi kerusuhan di Poso itu, mereka (JI) menghilang dan fokus membangun kekuatan lagi sebelum melakukan aksinya. Dia fokus merekrut orang saat ini,” ujar Dedi.

Para aktif mengirimkan kadernya ke Suriah untuk mempelajari militer dan terorisme. Ia telah memberangkatkan enam kelompok, di mana masing-masing kelompok terdiri dari 14 orang. Meski begitu, tak semua berhasil dikirim ke Suriah.

“Ada yang berhasil tiba di Suriah, ada juga yang dideportasi kembali ke Tanah Air,” kata Dedi.

Tak habis akal, guna memperkuat jaringannya, Para bersama anggotanya membangun usaha perkebunan kelapa sawit di wilayah Kalimantan dan Sumatera.

Hasil usaha tersebut Para gunakan untuk membiayai kegiatan JI. Mereka yang bergabung, kata Dedi, diupah sebesar Rp 10 juta hingga Rp 15 juta.

Para, kata Dedi, dibekuk pada 28 Juni 2019 di Hotel Adaya Jalan Raya Kranggan, Jatisampurna, Bekasi. Selain Para, polisi juga meringkus istri Para yakni Masitha Yasmin dan tangan kanannya Bambang Suyoso. Ketiganya ditangkap berbarengan.

Baca Juga :  Achmad Zaky Mundur Sebagai CEO, Ini Sejumlah Kontroversi Bukalapak 10 Tahun Terakhir

“Bambang berperan sebagai penghubung amir dan orang yang direkrut, termasuk orang-orang yang dikirimkan ke Suriah. Bambang juga sebagai sopir Para,” kata Dedi.

Selain itu, polisi meringkus Abdurrahman, pada 30 Juni 2019 sekitar pukul 11.45 WIB, di Perumahan Griya Syariah, Blok G, Kelurahan Kebalen, Bekasi, Jawa Barat.

Abdurrahman merupakan orang yang berhasil direkrut oleh jaringan Para dan juga orang kepercayaannya untuk menggerakkan jajaran JI di Indonesia.

Terakhir, polisi menangkap Budi Tri alias Haedar alias Feni alias Gani di hari yang sama, 30 Juni 2019, sekitar pukul 14.15 WIB di daerah Pohijo, Kecamatan Sampung, Ponorogo, Jawa Timur. Budi Tri adalah penasihat Para dan penggerak jajaran JI Jawa Timur.

www.tempo.co

Loading...