loading...
Loading...
Tempo.co

JAKARTA, Joglosemarnews.com – Melihat dari pengalaman yang ada, perebutan kursi Ketua Umum Golkar sering menimbulkan perpecahan.

Karena itulah Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi berharap musyawarah nasional atau Munas Golkar 2019 tak membuat partai berlambang beringin itu kembali pecah.

Perebutan kursi Ketua Umum Golkar, kata Dedi, kerap menimbulkan perpecahan. Sebab, calon yang kalah bertarung dalam munas kemudian membentuk partai baru.

“Golkar mengecil itu selalu diawali peristiwa Munas,” ujar Dedi Mulyadi, di Senayan, Jumat (12/7/2019).

Dedi mengatakan hal tersebut berdasarkan pengalaman Golkar setelah Munas yang digelar sejak era reformasi.

Pada 1998, misalnya, dua partai politik baru terbentuk setelah munas, yakni Partai Karya Peduli Bangsa serta Partai Keadilan dan Persatuan yang kini menjadi Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia.

Baca Juga :  3 Poin Klarifikasi Ustadz Abdul Somad (UAS) Terkait Video Ceramahnya yang Viral di Medsos

Pasca Munas Golkar 2004, ujar dia, dari rahim Golkar lahir dua partai politik, yakni Partai Gerakan Indonesia Raya yang dibentuk Prabowo Subianto dan Partai Hanura bentukan Wiranto. Prabowo dan Wiranto sempat bertarung dalam konvensi calon presiden dari Golkar pada 2004.

Adapun pasca Munas Golkar 2009, terbentuk organisasi massa Nasional Demokrat, yang kini menjelma menjadi Partai NasDem.

Partai ini dibentuk oleh politikus Golkar, Surya Paloh, yang kalah bertarung melawan Aburizal Bakrie dalam Munas Golkar di Riau.

Baca Juga :  Menaker: Pemegang Kartu Pra Kerja Terima Insentif, Bukan Gaji dan Maksimal Selama 3 Bulan

“Kemudian Munas Bali hanya melahirkan Munas Ancol. Saat itu Golkar mengalami problem besar dimana kami hampir tidak bisa ikut Pilkada di beberapa daerah,” ujar Dedi.

Semua dinamika tersebut, ujar Dedi, berhasil dilalui hingga Golkar bisa merajut kembali partai menjadi seperti saat ini.

Untuk itu Golkar, ujar Dedi, menginginkan Munas saat ini bukan hanya soal perebutan tahta kursi ketua umum, tapi tentang bagaimana konsolidasi partai menyongsong 2024.

Dedi tak menjawab dengan lugas ketika ditanya apakah itu artinya Golkar dalam Munas kali ini berharap hanya ada satu calon yang kemudian bisa terpilih secara aklamasi.

Baca Juga :  Heboh, Kepala Ngocor Dikepruk Gelas Saat Asyik Goyang Dangdut

“Ya soal itu kan nanti kita tergantung kehendak seluruh jaringan Golkar. Tapi kalau melihat dukungan DPD sekarang sudah mencapai 468 (untuk Airlangga). Itu bukan main-main,” ujar Dedi.

Belakangan, memang terjadi pergolakan di internal Golkar setelah Bambang Soesatyo mengumumkan akan menantang Airlangga Hartarto di Munas mendatang.

Saling klaim dukungan pun tak terhindarkan. Dari kubu Bamsoet mengklaim sudah mengantongi 400 suara, sementara kubu Airlangga mengklaim telah mengantongi 468 suara dari 557 pemilik suara Golkar.

www.tempo.co

Iklan
Loading...