loading...
Loading...
Muhammad Panunggal Jati dengan Pak Dhe Zaifudin A. Rahim di depan Ka’bah. Foto/Johan Wahyudi

MEKAH, JOGLOSEMARNEWS.COM Namanya Muhammad Panunggal Jati. Lahir di Klaten, 16 Januari 2001 dan masih berusia 18 tahun.

Meski masih remaja, ia sudah bisa mendapat kesempatan untuk menunaikan ibadah haji.

Ia merupakan anak tunggal dari pasangan almarhum Suharja dengan Widiyastuti (58).

Pada musim haji 2019, pelajar SMAN 2 Klaten ini menjadi jamaah haji termuda di Kloter 8 SOC Solo dalam usia 19 tahun. Dan pengalaman ibadah haji pun memberinya banyak pengalaman yang menakjubkan.

Panunggal Jati menceritakan kisah ia naik haji berawal dari meninggalnya sang ayah pada 2018. Waktu itu, kedua orang tuanya sudah mendaftarkan haji. Karena itu, sang ibu mesti didampingi mahram. Namun, karena masih terlalu belia, anak tunggal ini belum berani menggantikan posisi almarhum ayahnya.

Baru pada tahun 2019 inilah, penyuka olahraga lari ini sudah menyatakan kesiapannya berhaji.

Baca Juga :  Sadar Dulunya Anak Desa, Bupati Batang Kelahiran Sragen Dorong Siswa Harus Semangat Lanjut Kuliah. Kementerian Siapkan 400.000 Beasiswa Kuliah Bagi Siswa Miskin

Tergabung di Kloter 8 SOC Solo, tentu menjadi kenangan yang sangat indah. Ia tidak menyangka jika jamaah haji dari Indonesia teramat banyak. Ia sadari itu saat masuk Asrama Haji Donohudan.

Saat ini, Jati, panggilan akrabnya, duduk di bangku kuliah Jurusan Akuntansi Fakultasyang Ekonomi Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta semester satu. Ia sangat bersyukur karena bisa menyaksikan kesyahduan Tanah Suci, baik di Madinah maupun Makkah, secara langsung.

Dua Kota Suci itu, kata dia, mengajarkan kita untuk saling menghormati. Betapa majemuknya para jamaah yang datang dari seluruh penjuru dunia. Namun, tidak ada satupun yang merasa dirinya paling benar.

Foto/Johan Wahyudi

Selama di Kota Suci ini, Panunggal juga mengaku mengalami beberapa kejadian unik tapi nyata. Setiap ingin menunaikan ibadah sholat di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, selalu saja ada tempat duduk di depannya.

Baca Juga :  Semangat Baru Desa Sambi Sragen. Diundang Reses Bambang Pur, Warga Berondong Usulan Air Bersih dan Perbaikan Infrastruktur

“Nggak tahu saya kok bisa begitu. Tiap mau sholat kok tiba-tiba selalu ada tempat di depan saya,” tuturnya.

Ia berpesan, karena haji itu ibadah fisik, sebaiknya para remaja mulai mempersiapkan diri sejak sekarang. Dengan menghitung rentang waktu menunggu, keberangkatan haji bisa diprediksi.

“Ibadah haji saat muda itu sangat menyenangkan. Fisik masih kuat sehingga tidak merepotkan orang lain” pesan Jati menutup obrolan. (*/Laporan Johan Wahyudi dari Mekah) 

Loading...