JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Internasional

Usai Melahirkan Masuk Penjara, Mahasiswi Itu Sering Merintih Kesakitan, Ada  Apa?

tempo.co
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

DENPASAR, JOGLOSEMARNEWS.COM – Dua hari setelah melahirkan, wanita bernama Simprosa D (20) yang membunuh bayinya sendiri di dalam toilet kampus, sering merintih dan menangis .

Diduga, hal itu merupakan efek dari melahirkan, sehingga polisi langsung membawanya  ke RSUP Dr Sardjito.

Terhadap kondisi tersebut, petugas langsung membawanya ke RSUP Sanglah.

“Mungkin karena rahimnya belum bersih setelah melahirkan. Pelaku terlihat tegar, tidak depresi atau lainnya,” kata sumber, Jumat (2/8) kemarin.

Selanjutnya pelaku mendapat perawatan tim medis di RSUP Sanglah. Namun tidak sampai diopname dan langsung dibawa ke Mapolsek Denpasar Selatan (Densel).

Baca Juga :  Antisipasi Pelanggaran Tahapan Pilkada, Bawaslu Solo Buka Posko Aduan

Apakah teman kuliahnya tidak tahu pelaku hamil?

“Itu saya tidak paham juga. Mungkin karena pelaku bodinya besar sehingga dikira gemuk. Selain itu, pelaku mengenakan pakaian yang longgar,” ucap sumber yang enggan disebut identitasnya ini.

Sementara itu, Kanitreskrim Polsek Densel Iptu Hadimastika mengatakan, saat ditangkap di kosnya di Jalan Tukad Gerinding, Gang Badik, Densel, pelaku tidak melakukan perlawanan.

Terkait kasus ini, pihaknya belum ada rencana menggelar rekonstruksi.

Baca Juga :  Pedagangnya Meninggal Akibat Positif Covid-19, Pasar Harjodaksino Solo Ditutup Sepekan

“Kami sudah melakukan prarekonstruksi. Selain itu, penyidikan kasus ini sudah jelas,” tandasnya.

Sebelumnya, pengungkapan kasus penemuan bayi di kolam utara Pertokoan Sudirman Agung di Jalan Sudirman, Panjer, Densel, dirilis Kapolresta Denpasar Kombes Pol Ruddi Setiawan, Kamis (1/8/2019) lalu.

Pelaku berusia 20 tahun asal NTT itu melahirkan bayi di toilet kampusnya, tepatnya selatan TKP. Setelah lahir dan menangis, bayi laki-laki itu langsung dibekap sampai meninggal.

Jasad bayi dalam toilet itu lalu dibungkus dengan jas almamaternya lalu dibuang di TKP.

www.tempo.co