JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Bukan Perancang Demonstrasi, Ini Peran Dosen IPB Pemilik 28 Bom Molotov

Ilustrasi bom molotov.

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB), Abdul Basith yang dituding menyimpan 28 bom molotov untuk dibakar  dalam demo Mujahid 212 tidak termasuk dalam orang yang merancang demonstrasi tersebut.

Demikian dikatakan oleh Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Argo Yuwono. Dia mengatakan, peran Absul Basith bukan sebagai perancang demonstrasi.

“Dosen IPB itu bukan yang merancang demo. Tapi dia menyimpan 28 bom molotov untuk mendompleng kegiatan Mujahid kemarin,” kata Argo saat dikonfirmasi, Senin (30/9/2019).

Menurut Argo, bom molotov itu rencananya akan dibakar saat aksi berlangsung. Basith diduga bakal melakukan provokasi dengan meledakkan bom molotov. Namun aksi tersebut belum dilakukan olehnya.

Baca Juga :  Video Hujan Es Disertai Angin Kencang Landa Kota Bogor, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem

“Tapi ada permufakatannya di situ,” kata Argo.

Sebagaimana diketahui, anggota Polda Metro Jaya dan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap enam orang yang diduga berencana membuat kekacauan dalam unjuk rasa Mujahid 212.

Mereka adalah AB (44), S alias L (30), YF (50), AU (43), OS (42) dan SS (61). Pelaku terakhir diduga bernama Sony Santoso yang merupakan Laksamana (Purn).

Atas penangkapan Basith, IPB telah mengeluarkan pernyataan tertulis melalui laman website resminya. IPB mengaku merasa terkejut dan prihatin atas peristiwa penangkapan salah satu tenaga pengajarnya.

Baca Juga :  Sebagian Warga Jakarta Dihebohkan Suara Dentuman Misterius

“Perlu kami sampaikan bahwa dugaan aktivitas yang dilakukan adalah tidak ada kaitannya dengan tugas yang bersangkutan sebagai dosen IPB dan menjadi tanggung jawab penuh yang bersangkutan sebagai pribadi. Terkait masalah ini, IPB menghormati proses hukum yang berlaku,” tulis dalam laman website IPB.

Demonstrasi Mujahid 212 Sabtu kemarin berjalan damai. Tak ada gesekan antara massa dengan aparat. Namun aksi tersebut sempat menuai kritik karena menyertakan banyak anak-anak di bawah umur.

www.tempo.co