JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Kesehatan

Diet yang Pas untuk Semua Orang Adalah Puasa, Ini Penjelasan dari Ahlinya

Ilustrasi diet. Republika.co.id
Ilustrasi diet. Republika.co.id

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Banyak orang rela melakukan diet demi memiliki tubuh yang ideal. Berbagai tipe diet kini sedang popuper, seperti diet ketogenik ataupun Obsessive Corbuzier’s Diet (OCD). Tetapi tidak setiap diet tepat untuk dilakukan seseorang. Diet yang paling tepat adalah puasa.

Menurut ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Ali Khomsan, diet harus dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Berdasarkan aspek gizi, orang yang sudah terlanjur gemuk (overweight), dapat menurunkan berat badan dengan cara memangkas 500 kalori sehari.

“500 kalori sehari itu setara kurang lebih sekali makan siang. Kalau biasa makan tiga kali lalu gemuk, maka prosesnya harus makan dua kali sehari,” ujar Prof Ali kepada Republika.co.id, akhir pekan kemarin.

Baca Juga :  Covid-19 Masih Merajalela di Indonesia, Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat, Ini Saran Ahli Farmasi

Apabila masih lapar, orang tersebut diperbolehkan untuk makan lauk dan sayur, tanpa nasi. Jika itu dilakukan secara rutin, maka sebulan hanya akan turun 2-3 kg.

Dalam aspek kesehatan, kata Prof Ali, diet yang benar hanya akan menurunkan sekitar 2-3 kg per bulan. Klaim diet yang menyebutkan penurunan berat badan hingga 10 kg seharusnya tidak boleh dipercaya, karena akan membuat kulit jadi mengkerut.

“Dalam gizi dan kesehatan 500 kalori sehari setara dengan 2 kg penurunan berat badan per bulan,” katanya.

Proses diet yang dilakukan sedikit demi sedikit, tidak akan menyebabkan merasakan kelaparan berlebihan dibandingkan dengan diet yang lainnya seperti food combining, diet ketogenik maupun OCD.

Baca Juga :  228 Tenaga Kesehatan Dilaporkan Meninggal Akibat Covid-19, Termasuk 9 Dokter Gigi dan 8 Guru Besar. IDI Sebut Masyarakat Banyak yang Tak Patuh Protokol Kesehatan

Untuk berdiet, Prof. Ali menekankan untuk menyesuaikan dengan kondisi tubuh dan apa yang diinginkan. Beberapa orang tidak cocok dengan diet ketogenik yang dapat menyebabkan pingsan, sedangkan diet OCD pun dinilai tidak tepat jika harus membatasi waktu makan.

Kalau dari 24 jam dibatasi 16 jam bebas makan, itu sama saja tidak diet. Kalau pembatasan makannya sekitar 20 jam, dan makan cuma 4 jam, itu sama saja seperti umat muslim yang berpuasa senin-kamis. Makanya, diet OCD harus dilakukan secara bertahap, supaya tidak kelaparan.

“Jadi sebenarnya lebih baik berpuasa, seperti dalam agama Islam dengan berpuasa senin kamis, atau puasa daud dengan berpuasa selang seling sehari. Lebih efektif mengurangi kalori,” kata Prof. Ali.

www.republika.co.id