JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Sri Sultan Hamengku Buwono X Terima Gelar Kehormatan Doktor Honoris Causa dari UNY

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengenakan toga saat penganugerhan gelar doktor honoris causa di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (5/9/2019). Gelar yang diberikan UNY ini merupakan gelar doktor honoris causa ke-7 yang diterima oleh Raja Keraton Yogyakarta tersebut.TRIBUNJOGJA.COM / Hasan Sakri
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengenakan toga saat penganugerhan gelar doktor honoris causa di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (5/9/2019). Gelar yang diberikan UNY ini merupakan gelar doktor honoris causa ke-7 yang diterima oleh Raja Keraton Yogyakarta tersebut.TRIBUNJOGJA.COM / Hasan Sakri

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X menerima gelar Doktor Honoris Causa (HC) di bidang Manajemen Pendidikan Karakter Berbasis Budaya dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kamis (5/9/2019).

Sri Sultan HB X menjelaskan ketika membicarakan pendidikan karakter berbasis budaya harus menumbuhkan kebudayaan sebagai mainstream pembangunan dan mengkaitkan dengan dimensi kepempimpinan (kuasa), pendidikan (media) dan ekonomi (sarana).

Baca Juga :  Kebijakan Pelonggaran Masker, Epidemiolog UGM: Harus Lihat Kondisi Lapangan

Menurutnya, dalam upaya menguatkan pendidikan karakter berbasis budaya perlu mendayagunakan budaya-budaya etnik sekaligus memperkuat semangat keindonesiaan.

“Salah satu cara yang diusulkan Promovendus adalah dengan melibatkan pemimpin-pemimpin informal etnik melalui dialog budaya antaretnik,” ungkapnya.

Menurut Sultan, yang diperlukan saat ini adalah mengukuhkan kembali komitmen guna membangkitkan potensi yang terpendam guna menyongsong masa depan yang lebih baik.

Baca Juga :  Suhu Panas di DIY Bukan Karena Gelombang Panas, Ini Penjelasan BMKG

Tentunya, dengan tetap menjunjung tinggi prinsip kebersamaan antaretnik duduk sama rendah, tegak sama tinggi.

“Pendidikan sendiri memerlukan filsafat yang memuat nilai-nilai. Dengan nilai-nilai yang berbeda dari sekarang maka melahirkan paradigma yang juga berubah. Di dalam mengubah paradigma itu, DIY sudah memiliki modal dasar,” terangnya.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua