loading...
Loading...
Foto Bupati Sragen dengan ajakan menyukseskan Pilkades serentak 2019 tanpa money politic. Foto/Istimewa

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM- Pembentukan Satgas Anti Money politik (AMP) untuk membendung politik uang jelang Pilkades serentak 26 September 2019 lalu, kembali menuai tanggapan miring.

Kali ini, salah satu Cakades yang gagal menang di Pilkades Sepat Masaran, Sukamto, menilai satgas AMP itu gagal total. Pasalnya proses Pilkades serentak yang digelar di 167 faktanya masih diwarnai jor-joran tembakan uang dari calon untuk menggaet dukungan warga.

“Kalau boleh menilai, saya lihat Satgas AMP untuk Pilkades itu gagal total. Gagal mengawal proses Pilkades serentak,” paparnya kepada wartawan Rabu (9/10/2019).

Sukamto yang hanya meraih 53 suara di Pilkades Sepat itu menilai maraknya money politik akhirnya membuat cakades yang memiliki SDM layak dan pantas, akhirnya dikalahkan oleh cakades-cakades yang bermindset pembotoh atau pembeli suara.

Ia menilai praktik money politik itu juga telah merusak proses demokrasi di  Pilkades Kabupaten Sragen.

Baca Juga :  MUI Sragen Serukan Masyarakat Tak Anarkis Jelang Pelantikan Presiden. Kapolres Ingatkan Syukur Boleh Tapi Tam Berlebihan

“Mayoritas memainkan money politik yang ironisnya tanpa ada tindakan nyata di lapangan dari satgas AMP Sragen. Semangat menjaga Pilkades yang tanpa politik uang, telah gagal,” ucapnya lagi.

Sebaliknya ia mengkritisi bahwa pembentukan Satgas AMP itu hanya slogan atau simbolis belaka dari Muspida.

“Menurut saya, Satgas itu seperti hanya mencari sensasi saja menjelang Pilkada,” ketusnya.

Pilkades Sepat sendiri dimenangkan oleh Mulyono yang meraih 2.789 suara disusul Tri Waluyo yang meraup 1.735 suara, Paino meraih 60 suara dan Sukamto dapat 53 suara.

Terpisah, Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati menolak anggapan Pilkades serentak di 167 desa Kamis (26/9/2019) masih diwarnai jor-joran money politic. Pasalnya ia mengatakan hingga siang hari H menjelang pemungutan suara, tidak ada laporan money politic yang masuk ke tim desk kabupaten.

Baca Juga :  Jelang Pelantikan Presiden, Dandim Sragen Mendadak Kumpulkan Ratusan Personel. Semua Diminta Siaga dan Standby 

Hal itu disampaikan bupati saat meninjau pelaksanaan Pilkades di Desa Taraman, Kecamatan Sidoharjo, Sragen. Bupati hadir didampingi Wabup Dedy Endriyatno, Sekda Tatag Prabawanto dan jajaran tim desk kabupaten.

“Sampai hari ini, saya tidak menerima laporan (money politic). Selama tidak ada laporan, ya berarti clear (bersih) tidak ada money politic,” paparnya.

Soal realita di hampir semua desa, warga masih menerima tembakan uang, Bupati balik bertanya apakah ada yang melapor. Ia juga mempertanyakan kenapa warga tidak mau melaporkan.

Lebih lanjut, Bupati Yuni menyebut money politic ibarat kentut. Yang baunya ada tapi ketika dicari orangnya siapa tidak ada yang mengaku.

“Kalau takut (lapor), ya sudah. Kita nggak bisa proses dong,” tukasnya.

Baca Juga :  7 Desa di Karanganyar Bakal Gelar Pilkades Serentak. Bupati Minta Warga Merantau Tetap Harus Dimasukkan Daftar Pemilih, Warga Luar Minimal Domisili 6 Bulan 

Soal kinerja tim Satgas Anti Money Politic yang sudah dibentuk, bupati menyebut sudah berada pada jalurnya. Namun karena tidak ada laporan, praktis tim juga tak bisa menindaklanjuti.

“Yang terpenting, sekarang kita sudah belajar dan mengerti. Ke depan mudah-mudahan lebih baik lagi,” tukasnya.

Sementara, Sekda Tatag Prabawanto menilai juga belum ada laporan masuk ke tim kabupaten soal money politic. Perihal fenomena di lapangan dan pengakuan masyarakat masih jor-joran tembakan dari calon, sejauh ini tim belum menerima laporan.

“Yang jelas tidak ada laporan. Perlu proses panjang untuk ke sana. Harus sabar,” katanya.

Secara umum, Bupati menambahkan pelaksanaan Pilkades relatif lancar dan kondusif. Antusias warga juga luar biasa.

“Walau sudah selesai, mereka masih antusias menyaksikan hasil perhitungan,” tandasnya. Wardoyo

Loading...