loading...

MEDAN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pelaku penusukan terhadap Menko Polhukam, Wiranto, yakni Syahril Alamsyah (SA) alias Abu Rara (31) di daerah asalnya Medan, dikenal sebagai orang yang cerdas.

Dia bahkan pernah menjadi penceramah di masjid di kampungnya, namun kurang disukai. Namun di balik itu, SA juga pernah bersinggungan dengan kasus narkotika.

Fakta itu diungkapkan oleh sahabat SA, Alex (39), dia mengisahkan itu kepada wartawan saat diwawancarai di sebuah warung kopi di Jalan Alfakah V, Kelurahan Tanjung Mulia Hilir, Kecamatan Medan Deli.

Lokasi itu sekitar 500 meter dari bekas rumah SA yang kini telah digusur oleh proyek pembangunan jalan tol. Menurut Alex, SA sempat menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum di sebuah universitas ternama di Sumatera Utara.

Namun demikian, ujar Alex, SA juga pernah ‘dekat’ dengan narkotika. Ia juga sempat menjadi penceramah di mushola di samping rumahnya.

SA menikah dengan istri pertamanya bernama Netta pada 1995 dan hanya bertahan 3 tahun. Setelah itu dia sempat frustrasi dan mengkonsumsi pil kurtak.

Ada satu momen ketika SA menelan 12 butir kurtak, lalu dia menyundutkan api rokok ke keningnya berkali-kali. Tak hanya itu, judi togel pun dilakukannya.

Baca Juga :  Jokowi Beri Sembako Senilai Rp 600.000 Pada Keluarga Miskin

“Sampai hitam keningnya disundutnya dengan api rokok setelah makan 12 butir kurtak. Itu di depanku,” katanya, Kamis (10/10/2019).

Tak lama kemudian, sekitar tahun 1999, SA berangkat ke Malaysia. Sepengetahuan Alex, SA di Malaysia hanya untuk jalan-jalan. Dia juga tak tahu dengan siapa selama lima bulan di Malaysia.

Sepulangnya dari Malaysia itu lah penampilan Syahrial berubah.

“Sepulangnya dia itu lah, saya bilang oh udah Islam dia. Bercanda aja. Maksudnya dia sudah pake peci. Ke mushola, ngisi pengajian, ceramah tapi kurang disukai warga. Akhirnya dia pun tarik diri,” katanya.

Dia sempat bekerja serabutan mulai dari depot air, membuka rental PlayStation dan lainnya namun akhirnya gagal.  Dari situ pekerjaan apapun dilakukannya.

Dia pun berkenalan dengan Yuni, hingga akhirnya menikah ‘tembak’ di Hamparan Perak, Deli Serdang pada awal tahun 2000-an.

Dengan Yuni, SA dikaruniai dua anak perempuan. Namun, saat anak keduanya baru berusia 10 hari, Yuni diambil paksa oleh orangtuanya.

Tak sampai di situ, orangtua Yuni melaporkannya ke polisi dengan tuduhan SA telah mengambil anak orang, sehingga ia ditahan selama tiga bulan di penjara.

“Orangtua Yuni kan tidak setuju dengan hubungan mereka,” ujarnya.

Pada tahun 2013, lanjut Alex, SA pernah bercerita tentang sesuatu yang disebutnya sebagai ‘saudara-saudara’ di Suriah dan berkeinginkan untuk ikut berjihad.

Baca Juga :  Kabar Duka, Doker Naek L Tobing Tutup Usia

Menurutnya, SA juga pernah mengatakan adanya sebuah proyek di Sulawesi Selatan namun batal. “Kalau itu jadi, nanti akan digunakannya untuk pergi ke Suriah.”

Alex mengatakan, saat itu SA juga menyebut dirinya tidak menyukai Pancasila. Pemimpin-pemimpin juga kafir. Di situ dia tidak sepakat dan mengaku NKRI harga mati.

“Dia lalu nunjukin seperti bendera, panji hitam itu,” ujarnya.

Lalu pada tahun 2015, dia ketemu dengan istrinya yang bercadar. SA bersama dua orang anak perempuannya dan juga istri serta dua anak laki-lakinya tinggal sekitar dua bulan di Alfakah VI.

“Sampai akhirnya dia meninggalkan rumah itu  tak tahu ke mana. Sampai akhirnya sekarang. Tak tahu aku sampai begini,” ujar Alex.

www.tribunnews.com