loading...
Loading...
Para kyai NU dan pengasuh Ponpes di beberapa kecamatan saat bersilaturahmi dan bertukar wawasan soal wacana suksesi kepemimpinan Pilkada Sragen 2020 dengan Joko Suwoto, Rabu (2/10/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Sejumlah pengasuh pondok pesantren dan kyai dari perwakilan beberapa wilayah di Sragen mengungkapkan pandangan mereka soal kinerja pemerintahan Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati selama 5 tahun yang dianggap masih jauh dari memuaskan.

Bahkan program yang dijalankan selama ini dianggap belum banyak membawa perubahan dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Hal itu terungkap ketika sejumlah kyai dan pengasuh Ponpes beraliran NU berkumpul dan mengutarakan pandangan mereka terhadap peluang suksesi kepemimpinan di Sragen pada Pilkada 2020, Rabu (2/10/2019).

Mereka berkumpul dan bersilaturahmi dengan salah satu tokoh PNS kelahiran Kedawung, Sragen, Joko Suwoto yang belum lama ini mendeklarasikan diri siap maju ke Pilkada Sragen.

Salah satu sesepuh kyai yang juga pengasuh pondok pesantren An’Nain Aji Soko, Sukodono, K.H Suram Mustofa menyampaikan selama lima tahun terakhir, program pemerintahan Sragen saat ini belum banyak menyentuh dan membantu masyarakat.

Ia menyebut salah satunya di bidang pertanian. Bencana kekeringan yang mengakibatkan banyak petani di utara Bengawan gagal panen, selama ini nyaris tanpa ada perhatian dan penanganan.

“Utara bengawan gagal panen karena kesulitan air, selama beberapa tahun kan nggak pernah tertangani. Kekurangan air, hanya dibantu wadahe (tandon), tapi hampir setiap tahun terjadi juga nggak bisa teratasi. Lalu khusus untuk NU, selama ini yang kani rasakan juga belum ada peningkatan untuk NU. Mau buat rumah sakit izinnya juga dipersulit,” paparnya diamini para kyai yang hadir.

Baca Juga :  Ditelepon Tak Diangkat, Sopir Roti Ditemukan Tak Bernyawa di Dalam Mobilnya Terparkir di Wilayah Sumberlawang 

Kyai yang dikenal ceplas-ceplos itu menyampaikan sebagai pengasuh Ponpes beraliran NU yang notabene menjadi bagian pendukung Yuni-Dedy saat Pilkada 2015 itu mengakui selama ini, keberpihakan pemerintah terhadap Ponpes juga nyaris tak dirasakan.

“Honor untuk ustad pun baru ada setahun terakhir Rp 50.000 perbulan. Program untuk Ponpesnya malah belum ada. Makanya bagi saya selaku di Ponpes, ya melihat banyak kekurangan dari pemerintahan ini. Masyarakat bawah itu tahunya program yang dirasakan masyarakat kecil,” tukasnya.

Perihal pertemuan itu sendiri, Suram menyebut untuk bersilaturahmi. Soal wacana dukungan Pilkada 2020, jaringan kyai pun mengisyaratkan siap untuk mendukung apabila ada calon bupati atau paslon di luar petahana yang memiliki visi misi dan program yang lebih baik.

Senada, Kyai Maksun mengutarakan memang saat ini petahana sudah mencoba mengikat tokoh-tokoh NU dan pimpinan Ponpes. Kendati begitu, ia menyebut sebenarnya selama ini keberadaan bupati yang sebelumnya didukung NU, belum banyak dirasakan oleh internal NU.

“NU sendiri di pemerintahan saat ini, asline ngenes tapi banyak yang tidak menyadari kengenesan ini. Mau buat  rumah sakit saja dipersulit ijinnya. Dikasih ijin pun jauh di Sumberlawang sana,” katanya.

Beberapa kyai dan pengasuh Ponpes lainnya juga mengungkap beberapa kelemahan dan kekurangan pemerintahan saat ini.

Baca Juga :  Terungkap, Misteri Mobil Dinas Yang Kecelakaan Maut Tewaskan 1 Pemotor Ternyata Milik Bina Marga DPU-PR Sragen. Sopirnya Diketahui Bukan PNS

Karenanya mereka pun menyatakan masih terbuka peluang untuk beralih mendukung apabila ada calon bupati yang benar-benar serius dan siap menantang petahana.

Dari catatan JOGLOSEMARNEWS.COM, ada sembilan perwakilan kyai dan pengasuh Ponpes yang hadir di acara silaturahmi tadi. Mereka datang dari Ponpes di Sukodono, Tangen, Masaran, Sragen Kota, Kedawung serta Sidoharjo.

Sementara, Joko Suwoto menyampaikam silaturahmi dengan para kyai itu memang inisiatifnya dan mendapat respon positif dari para kyai.

Menurutnya pertemuan itu hanya sebatas perkenalan dan silaturahmi dengan para kyai sebagai penjajakan menuju Pilkada 2020.

“Soal partai nanti dulu, tapi Insyaallah sudah ada lampu kuning. Tapi partainya apa belum kami sampaikan. Yang jelas di luar PDIP dan PKS,” katanya.

Soal penilaian para kyai perihal kondisi program pemerintahan saat ini yang dipandang belum banyak memberikan perubahan dan kesejahteraan masyarakat, Joko menyebut akan menjadi masukan apabila dirinya dipercaya bisa maju ke Pilkada 2020.

“Yang penting berikhtiar dulu,” tukasnya. Wardoyo

 

Loading...