JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Susun Kabinet Periode Kedua, Jokowi Jaga Keseimbangan Nasdem dan PDIP

Megawati Soekarnoputri / tempo.co
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Megawati Soekarnoputri / tempo.co

Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, berswafoto bersama awak media usai bertemu di Istana Merdeka, Jakarta, 11 Oktober 2019 / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM   Penyusunan kabinet periode kedua Presiden Jokowi ibarat cinta segitiga. Jokowi harus menyeimbangkan antara poros Gondangdia dan Poros Teuku Umar.

Demikian diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari.

“Saya menyebut penyusunan kabinet ini cinta segitiga antara Jokowi dengan poros Gondangdia dan poros Teuku Umar,” katanya dalam Dinamika Politik Jelang Penyusunan Kabinet di Gado – Gado Boplo, Jakarta, Sabtu (12/10/2019).

Baca Juga :  OTG Dominasi Kasus Positif Covid-19, Doni Monardo Minta Masyarakat Waspada

Poros Gondangdia yang dimaksud Qodari merujuk pada lokasi kantor Partai NasDem. Sedangkan poros Teuku Umar pada rumah Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Menurut Qodari, Jokowi saat ini berusaha menjaga keseimbangan antara poros Teuku Umar dan Gondangdia.

Qodari menuturkan, kedua poros tersebut memiliki motivasi yang berbeda dalam menyikapi partai-partai di luar koalisi pendukung Jokowi yang ingin bergabung.

Dari poros Gondangdia, misalnya, tidak ingin ada partai baru masuk dalam koalisi karena khawatir jatah menterinya berkurang.

Sedangkan poros Teuku Umar memikirkan peluang berkoalisi dengan Partai Gerindra pada Pemilu 2024.

Baca Juga :  Terkait Penangkapan Bupati Kutai Timur, KPK Cokok 15 Orang Lainnya

Saat ini, kata Qodari, total partai yang berkoalisi dengan Jokowi baru 60 persen. Jika ingin pemerintahannya kuat, Jokowi setidaknya harus meraih dukungan dari 70 persen partai politik yang ada, seperti pada periode pertama pemerintahannya.

Mengenai wajah kabinet, Qodari mengatakan bahwa Jokowi sudah memberikan kisi-kisi.

Pertama, ingin tipologi menteri eksekutor yang pintar memahami masalah. Kedua, Jokowi ingin menteri yang mempunyai kepemimpinan sehingga bisa menggerakkan organisasi dan orang untuk mengimplementasikan program kerjanya.

Ketiga, Jokowi ingin calon menterinya punya kemampuan monitoring dan evaluasi lapangan.

www.tempo.co