JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Viral Kasus Siswi SMP Gemolong Digerebek Warga Saat Mesum di Kamar, Bupati Sragen Minta Dinas Pendidikan Intensifkan Razia Konten HP Siswa  

Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Foto/Wardoyo
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Kasus penggerebekan siswi kelas 2 sebuah SMPN di Gemolong berinisial S (13) yang tertangkap basah sedang mesum dengan pacarnya berinsial A, memantik reaksi dari Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati.

Bupati mengaku sangat prihatin dengan kasus yang sedang viral itu dan meminta dinas pendidikan serta orangtua siswa meningkatkan pengawasan.

“Secara resmi saya belum dapat laporan. Tapi saya sungguh sangat prihatin mendengar itu,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM ditemui di Stadion Taruna Sragen, tadi sore.

Yuni menyampaikan kasus itu harus menjadi perhatian bagi semua pihak baik orangtua, sekolah maupun dinas terkait. Ia mengimbau kepada siswa untuk bijak menggunakan media sosial, internet dan teknologi digital lainnya.

Baca Juga :  Disambut Tepuk Tangan, Bupati Sragen Sampaikan Batalkan Rencana Perobohan dan Pembongkaran Semua Tugu Perguruan Silat. Kapolres Tekankan Semua Jaga Kamtibmas

Ia meminta kepada siswa untuk tidak berperilaku di luar norma-norma agama. Menurutnya, kasus itu juga harus menjadi perhatian bagi dinas pendidikan agar lebih intens memberikan imbauan kepada anak-anak.

Atas insiden asusila yang viral itu, Yuni meminta Dinas Pendidikan lebih mengintensifkan pemeriksaan atau razia terhadap konten HP milik siswa.

“Sebenarnya itu secara berkala sudah kita minta dilakukan pengecekan oleh sekolah. Selama ini tidak hanya merespon ketika ada persoalan saja. Tapi mungkin dinas pendidikan harus lebih intensif lagi melakukan razia HP siswa,” tukasnya.

Baca Juga :  Viral Video Mobil Wapres Isi Bensin dari Jeriken, Disangka Eceran Ternyata Ini Penjelasannya

Tak hanya dinas dan sekolah, bupati juga meminta orangtua lebih memperhatikan lagi terhadap anak-anaknya di rumah maupun pergaulan di lingkungan.

“Orangtua jangan hanya mau merintah tapi tidak mau tahu kondisi psokologis anak. Orangtua biasanya menyerahkan pendidikan ke sekolah dan melepas begitu saja. Sementara kadang anak-anak punya media komunikasi yang bisa menjangkau manapun tanpa ada pengawasan. Ini harus menjadi perhatian bersama,” tandasnya. Wardoyo