loading...
Loading...
Kondisi Harnita terbaring lemah di kamar tidurnya. Foto/Wardoyo

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM  DPRD Karanganyar geram dengan mencuatnya kasus pasutri asal Tawangmangu, Maryadi-Harnita, penderita penyakit kronis dan mengalami kesulitan dalam pengobatan.

Pendataan keluarga miskin pun dituding kurang maksimal sehingga akhirnya banyak warga miskin yang luput dari bantuan atau penerima fasilitas pengobatan gratis dari pemerintah

Anggota Komisi D DPRD Karanganyar, Endang Muryani, menyatakan masih ditemukannya warga miskin yang luput dari perhatian pemerintah, menunjukkan  pendataan yang dilakukan kurang maksimal.

Menurut Endang, selama ini data kemiskinan yang menjadi acuan untuk memberikan bantuan, tidak akurat. Untuk itu, politisi PDIP itu memandang perlunya tim khusus untuk melakukan pendataan warga miskin secara riil di lapangan.

Dijelaskannya, tim khusus tersebut,  secara kontinyu turun ke lapangan dalam melakukan pendataan  warga miskin. Dengan demikian, pemerintah akan memiliki data valid warga miskin.

“Pemerintah wajib memberi jaminan kesehatan dan kesejahteraan warga miskin. Masih ditemukannya warga miskin yang luput dari perhatian karena pendataan kurang maksimal. Terutama pendataan terhadap warga miskin yang berhak mendapatkan penerima bantuan iuaran agar disempurnakan lagi,” tegasnya.

Baca Juga :  Awas, Ketua Pengelola BUMDes Wajib Laporkan Pertanggungjawaban Keuangan Tiap 6 Bulan Sekali ke Kepala Desa 

Senada, Ketua FPKS, Samsul Bahri mengungkapkan persoalan kemiskinan adalah persoalan bersama yang harus diselesaikan. Menurutnya, peran aktif aparat desa untuk mengetahui keadaan rakyatnya sangat penting.

“Pengentasan kemiskinan adalah persoalan bersama, baik pemerintah, wakil rakyat dan seluruh masyarakat. Kita semua harus duduk bersama untuk menuntaskan persoalan kemiskinan ini. Kami juga meminta kepada Pemkab, agar tetap konsisten dan sungguh-sungguh dalam mengatasi persoalan ini. Diperlukan pendataan yang akurat, sehingga ke depan, tidak ditemukan lagi warga miskin yang luput dari perhatian,” katanya.

Pernyataan itu dilontarkan menyusul kisah pilu pasangan suami isteri Maryadi-Hanita warga Dusun Klatak Rt 01/RW I Desa Karangpandan, Kecamatan Karangpandan yang diketahui mengidap penyakit kronis.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, pasangan ini hanya mengandalkan hasil berjualan roti bakar dengan penghasilan yang tidak seberapa. Hasilnya juga sebagian digunakan untuk biaya pengobatan keduanya.

Baca Juga :  Loker Pemkab Karanganyar, Membutuhkan Direksi Perusahaan Umum Daerah

Sang suami, Maryadi, menderita penyakit jantung bocor sedangkan Hanita, istrinya mengidap penyakit kanker rektum. Maryadi yang merupakan tulang punggung keluarga, tidak dapat bekerja memenuhi kebutuhan keuarganya secara layak.

Akibatnya, kondisi perekonomian mereka, semakin hari semakin terpuruk. Untuk dapat bertahan hidup, mereka hanya mengandalkan bantuan para tetangga. Karena penghasilan dari berjualan roti bakar, tidak mencukupi memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Hasil berjualan tersebut, tidak hanya digunakan untuk keerluan sehari-hari, tapi juga digunakan untuk biaya pengobatan. Wardoyo

Loading...