loading...
Loading...
Para siswa SMKN 1 Miri Sragen panik berusaha membantu rekan mereka yang tertimbun retuntuhan bangunan aula yang ambruk diterjang puting beliung, Rabu (20/11/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Tragedi ambruknya aula SMKN 1 Miri Sragen yang melukai 22 siswa dan 1 guru, Rabu (20/11/2019) memunculkan fakta baru. Pihak sekolah menyebut lokasi SMKN 1 Miri merupakan jalur angin puting beliung sementara DPRD menemukan ada kesalahan konstruksi dari pembangunan aula.

Ketua Komisi IV DPRD Sragen, Sugiyamto seusai memimpin sidak ke SMKN 1 Miri, Kamis (21/11/2019) menuturkan insiden ambruknya aula berbentuk joglo berukuran 12 x 24 meter itu juga ada unsur keteledoran dari pelaksana proyek pembangunan aula.

Sebab konstruksi bangunan limasan itu tidak ditopang oleh kobstruksi bawah yang cukup kuat.

Bagian bawah fondasi dan besi bagian bawah sangat kecil sehingga tak sebanding dengan beban bangunan joglo tersebut. Sehingga bangunan itu tak cukup kuat menahan terjangan angin.

“Apalagi tadi dari keterangan pihak sekolah, lokasi itu adalah jalur angin dan setiap tahun selalu terjadi angin puting beliung. Harusnya konstruksi bawahnya diperkuat,” paparnya kepada wartawan.

Ia merekomendasi jika akan dibangun lagi, maka sebaiknya aula didirikan di lokasi lain di sekolah itu.

Baca Juga :  Bagi 1.000 Stiker Anti Korupsi, Kajari Sragen Ajak Masyarakat Mau Lapor dan Stop Membiasakan Beri Pungli! 

Atau dibangun di tempat yang sama namun konstruksinya dirubah lebih kuat dan tidak lagi joglo terbuka tanpa dinding.

“Kalau bawahnya kuat, otomatis tidak akan mudah terangkat ketika diterjang angin. Kalaupun kena, paling hanya gentingnya yang kabur. Apalagi di lokasi itu bencana angin hampir menjadi rutinitas setiap tahun. Tapi dulu hanya gentingnya yang kabur. Lalu kap bengkel.juga kabur,” terangnya.

Ia juga meminta pihak terkait bisa lebih memaksimalkan deteksi dini wilayah-wilayah yang rawan dan rutin terjadi puting beliung.

Hal itu penting untuk memberikan edukasi dan antisipasi kepada masyarakat agar selalu waspada serta jika membangun harus dengan konstruksi yang lebih kuat.

Sementara, Kepala Disdikbud Jateng, Jumeri menguraikan akan melakukan evaluasi terkait kondisi aula yang ambruk itu. Hal itu diperlukan untuk mengetahui kelayakan bangunan aula.

Selain itu, evaluasi diperlukan untuk mengetahui apakah ambruknya aula yang baru dibangun 2015 itu terjadi karena faktor musibah atau alam, atau memang ada faktor lain termasuk lonstruksi bangunan.

Baca Juga :  Dicokot Bandar Ganja Jakarta, Kalapas Sragen Curiga 20 Napi Kiriman Baru dari LP Cipinang

“Nanti kami juga akan terjunkan tim ahli bangunam untuk mengecek dan mengevaluasi kelayakan bangunannya. Nanti hasilnya akan didiskusikan dengan tim untuk mengetahui langkah selanjutnya seperti apa,” tukasnya.

Sementara, Kasek SMKN 1 Miri, Sarno mengatakan aula itu dibangun 2015 dari dana komite. Saat pembangunan dirinya belum menjabat di situ.

Akan tetapi dari riwayatnya, hampir setiap tahun lokasi sekolahnya tak pernah absen dari terjangan angin kencang. Wardoyo

 

Loading...