JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Menkes Sebut, Pijat Pembesaran Penis Ala Mak Erot Bisa Menjadi Daya Tarik Wisata

Ilustrasi / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Menteri kesehatan, dr Terawan Agus Putranto menyatakan, kerokan, pijat, bahkan panti pijat pembesar penis bisa menjadi aset naaional yang berpotensi menarik wisatawan medis.

Kerokan, pijat, bahkan pijat membesar penis sudah lazim di Indonesia. Poster atau pamflet pijat mulai dari capek, patah tulang, hingga stroke, merupakan penyembuhan alternatif yang digemari masyarakat.

“Kita harus mempopulerkan ide obat tradisional untuk pariwisata. Kami memiliki industri jamu yang luar biasa yang tidak ada yang tahu tentang di luar Indonesia,” kata Terawan.

Dia mengutip Tongkat Ali (daun yang dikatakan untuk meningkatkan kinerja atletik), Purwaceng (zat seperti viagra), dan Mak Erot (pijat pembesaran penis) sebagai layanan yang dapat dieksploitasi.

“Jika kami mengemasnya dengan benar, orang asing akan tertarik,” imbuhnya.

Baca Juga :  Khawatir Jadi Klaster Penularan Covid-19, PP Muhammadiyah Imbau KPU Tunda Pilkada

Terawan juga menyebut kerok sebagai sumber wisata medis yang layak, yang merupakan metode penyembuhan berbagai penyakit.

Kerok dilakukan dengan menggosokkan koin atau benda tumpul lainnya, ke kulit punggung dengan minyak mentol dalam garis-garis yang rapi, namun sedikit merusak pembuluh darah.

Banyak orang Indonesia percaya ini menghilangkan zat atau racun yang tidak diinginkan, dengan membawa darah lebih dekat ke permukaan kulit.

“Jangan meremehkan kerok. Jika kami memiliki 100 kamar dan butuh 20 menit per orang, bayangkan berapa banyak pendapatan yang akan dihasilkan. Ada banyak permata budaya lain yang belum kita eksploitasi karena kita menerima begitu saja. Tetapi bagi orang asing, itu sesuatu yang menarik,” kata Terawan.

Seaneh pijat pembesaran penis, Terawan ada benarnya. Pada 2013, Abidinsyah Siregar, Direktur Layanan Kesehatan Tradisional, Alternatif, dan Komplementer, melaporkan bahwa jumlah pasien rumah sakit di seluruh negeri berkurang, mereka beralih ke praktik pengobatan tradisional.

Baca Juga :  Hari Ini Pasien Sembuh dari Covid-19 Bertambah 3.207

“Dunia sedang mengalami kegilaan kembali ke alam. Di Eropa, lebih dari 60 persen obat-obatan mengandung bahan-bahan alami,” kata Siregar kepada media setempat.

Untung Suseno, kepala kelompok kerja Pariwisata Departemen Kesehatan, setuju bahwa Indonesia memiliki potensi untuk memperluas industri pariwisata medis, tetapi melalui spa.

Menurut Suseno, Indonesia sudah dikenal sebagai salah satu tujuan kesehatan terbaik secara global. Layanan spa di Ciater, 2 jam berkendara dari Jakarta, populer di kalangan pasien stroke lokal, jadi dia mengatakan itu hanya masalah layanan agar menarik bagi wisatawan.

www.tempo.co