loading...
Loading...
Sniper Joanna Palani. KISAH Joanna Palani, Sniper Cantik asal Denmark: Bunuh 100 Orang ISIS, Kepalanya Seharga Rp 14 Miliar.

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM –
Cantik biasanya identik dengan kelembutan. Namun cantik bagi wanita yang satu ini bisa berakibat celaka bagi orang-orang yang menjadi sasarannya.

Dia adalah Joanna Palani, seorang sniper cantik yang menjadi legenda bagi perlawanan kelompok ISIS.

Hingga Pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, terbunuh oleh bom bunuh diri, Joanna Palani masih hidup. Padahal kepalanya dihargai oleh Al Baghdadi senilai 1 juta dolar AS atau setara Rp 14 miliar (kurs Rp 14.000/dolar AS).

Ribuan tentara ISIS tak mampu membunuh Joanna Palani meski sayembara itu sudah berjalan sejak 2016.

Joanna Palani menjadi target besar ISIS karena sebagai seorang sniper (penembak runduk/jitu), Joanna disebut-sebut sudah menembak mati 100-an orang ISIS.

Joanna Palani adalah seorang sniper atau penembak jitu dari Denmark. Dia bergabung dengan Unit Perlindungan Wanita Kurdi (YJP) dalam upaya melawan organisasi ISIS.

Joanna Palani adalah perempuan berkewarganegaraan Denmark yang dikenal kisahnya terlibat dalam peperangan melawan ISIS di Suriah.

Memiliki paras cantik bak seorang model, rupanya Joanna Palani memiliki kemampuan seorang sniper luar biasa.

Bahkan keberanian dan kemampuannya, membuat Joanna Palani menjadi sniper yang paling dicari oleh orang ISIS.

Dari laman Dailymail, perempuan yang dijuluki Lady Death ini mengakui bahwa ia telah membunuh 100 orang anggota ISIS.

Akibatnya, Palani diburu oleh ISIS. Joanna Palani lahir di sebuah kamp pengungsian di Gurun Ramadi Irak, selama Perang Teluk 1993.

Kemudian dia bermigran ke Denmark saat usianya masih 3 tahun.

Gadis blasetran Iran-Kurdi ini harus meninggalkan Iran Kurdistan karena alasan politik dan kebudayaan kala itu.

Mewarisi darah pejuang dari kakek dan ayahnya membuat Palani terdorong untuk memulai revolusi melalui aksi militan.

Pada 2014, perempuan cantik ini keluar dari bangku kuliahnya. Mulailah dia melakukan perjalanan ke Suriah di usianya yang masih terbilang muda, 21 tahun.

Ia pun menceritakan bagaimana awal perjalanan, dan pelatihan yang diikutinya sebelum terjun ke garda terdepan untuk melawan ISIS.

“Saya ingat pertama kali saat menarik pelatuk dan merasak kekuatan dari sebuah senjata.”

“Saya menyukai kekuatan senjata itu, dan fakta bahwa kekuatan itu bukan dari senjata itu sendiri, tetapi pada orang yang memegang senjata itu,” ujar Palani.

Baca Juga :  Ini Negara-negara yang Terapkan Hukuman Mati untuk Koruptor, Termasuk Indonesia

Lebih lanjut, Palani menjelaskan dirinya sangat menyukai proses pelatihannya di kamp.

“Saya sangat menyukai pelatihan saya. Itu mengingatkan saya pada sosok Lyuda (Pavlichenko) Lady Death dari Tentara Merah Rusia,” jelas Joanna Palani.

Lyudmila Mikhailovna Pavlichenko adalah seorang penembak Soviet dalam Tentara Merah pada Perang Dunia II, yang dikenal karena membunuh 309 orang.

Lyudmila Mikhailovna Pavlichenko dianggap sebagai salah satu penembak militer papan atas sepanjang masa dan penempak perempuan tersukses dalam sejarah.

Apalagi darah Joanna Palani selalu mendidih setiap kali mendengar berita pejuang ISIS memperlakukan buruk anak-anak dan perempuan.

Selama di Timur Tengah, Joanna Palani adalah bagian dari pasukan yang membebaskan sekelompok gadis Yazidi yang diculik untuk dijadikan budak seks di Iran.

“Saya adalah seorang penembak jitu.”

Saya suka menggunakan otak dan tubuh saya untuk fokus pada misi saya,” ungkap Joanna.

“Saya dilatih oleh banyak kelompok di Kurdistan dan di luar wilayah Kurdi di Suriah,” tambahnya.

Dia juga dilaporkan memerangi pemerintahan rezim Bashar al-Assad di Suriah.

Selama perang Iran-Irak, sepasang suami istri melarikan diri dari Iran, yang melahirkan bayi perempuan di sebuah kamp pengungsi di Irak.

Tiga tahun kemudian, mereka membuat rumah di Skandinavia, membesarkan anak mereka di pedesaan Denmark.

Gadis kecil itu, Joanna Palani, menjadi perempuan yang sangat independen, idealistis secara politis.

Sekitar dua dekade sejak keberangkatan orangtuanya dari tanah air mereka, Joanna, seorang siswa sekolah menengah, meninggalkan rumah yang aman untuk bergabung dalam perang Kurdi melawan ISIS.

Dikutip dari featureshoot.com, awal tahun 2016, fotografer Denmark Asger Ladefoged dan jurnalis Allan Sorensen, keduanya staf di koran Berlingske, melakukan perjalanan ke Rojava, Suriah, untuk mencari Joanna.

Meskipun mereka tidak dapat melacaknya, Sorensen menerima permintaan pertemanan Facebook tidak lain dari pejuang Kurdi muda itu.

Setelah kontak awal dibuat, Joanna yang berusia 22 tahun setuju untuk mengadakan pertemuan di Erbil, Irak, saat dia memberikan izin kepada pasangan itu untuk mengikutinya selama delapan hari saat dia memasuki pertempuran.

Baca Juga :  Memilukan, Ditikam Lalu Dibakar Oleh Pelaku, Korban Perkosaan Ini Akhirnya Tewas

Joanna sejak kecil menghargai otonominya dan menentang fundamentalisme agama dan penindasan perempuan.

Selama masa sekolahnya, pada musim panas 2012, ia mengikuti pelatihan di Kurdi Iran, menjaga agar luka-lukanya disembunyikan dari teman-teman sekelasnya dengan menghindari kelas olahraga dan skenario lain di mana kaki dan kakinya akan terbuka.

Ketika dia pergi ke tentara Kurdi, dia tidak memberi tahu keluarganya tentang keberadaannya sampai berbulan-bulan telah berlalu.

Di Suriah dan Irak, tempat ia bertempur, Joanna ingin sekali melihat generasi baru wanita yang berhak dan bebas mengekspresikan diri mereka di forum publik.

Ibunya khawatir tentang putrinya, tentu saja, dan telah berusaha meyakinkannya untuk pulang, tetapi kegigihan dan kehendak Joanna membuatnya tetap di garis api.

Dia melihat seorang gadis berusia enam belas tahun, dekat dengan usianya sendiri, terbunuh oleh teroris ISIS.

Selama waktu yang singkat dengan Joanna, Ladefoged terikat dengannya selama percakapan intim tentang sejarahnya dan keinginannya untuk masa depan.

Meskipun dalam banyak hal dia menyebutnya “Dane” Dane, “keberanian dan prinsip-prinsipnya telah membawanya ke jalan yang tidak teratur.

Meskipun dia adalah seorang ateis, dia mengaku berdoa kepada Tuhan karena peluru telah terbang melewati kepalanya dalam pertempuran.

Dia menderita mimpi buruk, dan kadang-kadang dapat terdengar berteriak kata “Tembak!” dalam tidurnya.

Sejak Juni 2016, jelas fotografer itu, Joanna telah tinggal di Denmark, meskipun ia berharap untuk kembali ke garis depan.

www.tribunnews.com

Loading...