JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Bak Monster Mengerikan, Ratusan Kepala SMA dan SMK di Jateng Sampai Ketakutan dan Emoh Pasang Stiker Keramat Nek Korupsi Ora Slamet

Carissa Kusumaning Asih bocah cilik penyandang tunanetra asal Kabupaten Rembang mendapatkan kesempatan bertemu langsung dengan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo di ruang kerja Kantor Gubernur di Jalan Pahlawan, Semarang, Senin (14/1/2019). Satria Utama
Carissa Kusumaning Asih bocah cilik penyandang tunanetra asal Kabupaten Rembang mendapatkan kesempatan bertemu langsung dengan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo di ruang kerja Kantor Gubernur di Jalan Pahlawan, Semarang, Senin (14/1/2019). Satria Utama

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM  – Meski harganya tak lebih dari Rp 2.000, stiker antikorupsi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ternyata berimbas luar biasa.

Bagi pegawai negara, stiker ‘Nek Aku Korupsi Ora Slamet’ itu ternyata lebih menakutkan ketimbang sumpah maupun pakta integritas.

Hal itu terbukti zaat acara pengarahan Kepala SMA/SMK/SLB Negeri oleh Ganjar di Grhadhika Bhakti Praja, Jumat (27/12/2019). Mayoritas kepala sekolah, lebih memilih menandatangani pakta integritas daripada harus menempel stiker “keramat” itu.

Awalnya, Ganjar diminta menyaksikan penandatanganan pakta integritas oleh para kepala sekolah. Isi pakta integritas panjang, terdiri beberapa poin tentang kesediaan kepala sekolah menjaga integritas dan antikorupsi.

Dalam sambutannya, Ganjar pun membandingkan antara pakta integritas dan satu kalimat di stikernya. Ia pun menawari para kepala sekolah untuk memilih tandatangan pakta integritas atau memasang stiker.

Ternyata, dari sekitar 500-an kepala sekolah SMA dan SMK negeri yang hadir, tidak lebih dari 10 orang yang memilih memasang stiker. Sementara kepala sekolah lainnya memilih diam sambil berbisik satu sama lainnya hingga menimbulkan suara cukup gaduh.

Baca Juga :  Lakukan Aksi Pembacokan, Dua Pemuda Nikmati Dinginnya Sel Tahanan Mapolres Grobogan

Rasa takut untuk memasang stiker itu menjadi obrolan utama. Ganjar hanya melihatnya dengan tersenyum.

“Saya tidak tahu, apakah ini penting atau tidak. Apakah ini medeni (menakutkan) atau tidak, tapi saya ingin membandingkan pakta integritas ini dengan stiker saya. Ternyata, hari ini saya tahu bahwa stiker ini lebih menakutkan dibanding pakta integritas,” ungkap Ganjar.

Menurut Ganjar, stiker tersebut memang memiliki daya magis tersendiri. Meski harganya tidak lebih dari Rp 2.000, namun memiliki kekuatan yang luar biasa.

“Jangankan panjenengan, saat saya meminta seluruh kepala dinas untuk menempel stiker ini saja, banyak yang ketakutan,” ujarnya.

Meski begitu, orang nomor satu di Jateng ini tidak memaksa kepala sekolah untuk memasang stiker.

“Yang terpenting mari kita jaga integritas. Jangan ada pungli, korupsi dan hal-hal lainnya. Kalau ada, jangan segan laporkan ke saya,” tandasnya.

Baca Juga :  Tak Ada Kata Libur untuk Pamong Budaya
Foto/Humas Jateng

Ganjar juga menitipkan pesan kepada para kepala sekolah itu untuk tidak meminta pungutan yang tidak sesuai peraturan. Jika memang ada pungutan, komite dan wali murid harus sepakat dengan pungutan itu.

“Dan yang miskin, jangan sekali-kali dimintai pungutan. Awas, ini saya titip betul, semua harus berjalan transparan dan akuntabel,” pungkasnya.

Salah satu kepala sekolah yang berani untuk menempel stiker adalah Sri Soewarsih, Kepala SMAN 1 Sukoharjo. Menurutnya, stiker tersebut sangat efektif sebagai pengingat untuk tidak melakukan korupsi.

“Ini bagus untuk mengingatkan diri sendiri dan orang lain untuk tidak melakukan tindakan korupsi. Dengan adanya stiker ini, maka kita akan lebih berhati-hati dalam setiap pengambilan keputusan,” kata Sri Soewarsih.

Menurutnya, apabila seseorang tidak melakukan tindakan yang melanggar, tentu tidak akan takut.

“Kalau tidak korupsi, kenapa harus takut,” tegas. JSnews