JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Panen Raya Padi Membramo, Bupati Batang Kelahiran Sragen Ini Malah Disambati Pupuk Langka dan Irigasi Rusak! 

Bupati Batang, Wihaji saat panen raya padi di wilayah setempat. Foto/Istimewa
Bupati Batang, Wihaji saat panen raya padi di wilayah setempat. Foto/Istimewa

BATANG, JOGLOSEMARNEWS.COM Bupati Batang Wihaji bersama Kepala Dinas Pertanian Batang Megayani Tamrin dan Muspika Kecamatan Tersono melakukan panen raya padi jenis Membramo, di Desa Harjowinangun Barat.

“Panen raya padi ini sekaligus untuk mengetahui perbedaan hasil panenya antara yang yang diperlakukan dengan tritment fungisida, yang hasilnya perbandinganya 1 hektar selisih hasil mencapai Rp 4,5 juta rupiah perpanen,” kata Wihaji.

Bupati kelahiran Plupuh Sragen itu mengatakan bagi petani, sekarang tidak kepingin yang rumit dalam bercocok tanam, terpenting efektif, efisien dan panennya banyak.

“Kalau bisa obatnya sedikit, suketnya tidak banyak, modalnya sedikit panennya banyak, dan teknologi pertanian mampu tidak menjawab semua itu”, pintanya.

Wihaji juga memiinta kepada Dinas Pertanian agar memoderenisasi pertananian atau teknologinya harus bisa dipakai petani. Karena petani lebih pengalaman dalam bercocok tanam.

Baca Juga :  Pastikan Para Pengusaha Kuliner Tegakkan Protokol Kesehatan, Hendi Lakukan Pencermatan Khusus

“Jangan sampai bantuan teknologi pertanian tapi petaninya tidak mau, karena biayanya terlalu mahal,” jelasnya.

Karena keterbatasan anggaran, Pemkab Batang baru bisa membantu traktor dan mesin Combine. Pemerintah juga berupaya meningkatkan kesejahteraan petani, agar terus berinovasi dengan memberikan pendampingan kepada para kelompok tani.

Kepala Dinas Pertanian Kabupatrn Batang MegayaninTamrin menjelaskan, rata – rata panen di wilayah Kecamatan Tersono dalam 1 hektar mampu panen sebanyak 6 ton padi dengan luasanencapai 1742 hektar, kalau – rata – rata di Kabupaten Batang 1 hektar berhasil 5 ton padi.

“Sepanjang tahun di Kabupaten Batang mampu surplus padi sekitar 180 ribu ton padi dari lahan persawahan mencapai 22.480 hektar, lahan bakunua sekitar 17 ribu hektar” jelasnya.

Baca Juga :  Gubernur Jateng Minta Penderita Diabetes dam Hipertensi Tetap di Rumah Saja

Dijelaskan pula walaupun alih fungsi lahan di Batang cukup banyak, namun tidak begitu pengaruh yang signifikan, dengan adanya teknologi yang dulu setahun tanam dua kali sekarang bisa mencapai 2,5 kali.

“Alih fungsi lahan yang mengalihkan rakyat sendiri ada tapi kalau diaturan RTRW tidak ada, sehingga tidak ada pengaruh,” jelasnya.

Dalam dialognya hampir petani yang Kecamatan Tersono yang hadir dalam temu petani mengatakan mangalami kesulitan pupuk, dan saluran irigasi yang sudah rusak.

Di kesempatan tersebut Bupati Wihaji, menjawab untuk masalah irigasi akan dibangun sesuai skala prioritas karena keterbatasan anggaran. Masalah kelangkaan pupuk Bupati meminta penggantian distributor jika seringnya kelangkaan pupuk dan menaikan harga pupuk tidak sesuai dengan produsennya. JSnews