JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Video Viral 3 Sopir di Tanon Sragen, Pemdes Akhirnya Angkat Bicara Soal Tudingan Proyek Fiktif dan DD Nambahi Kere. Begini Penjelasan Lengkapnya!

Sekdes Tanon, Muh Zamroni bersama Pj Kades dan jajaran perangkat desa saat memberikan klarifikasi perihal aksi demo 3 sopir yang viral, Kamis (26/12/2019). Foto/Wardoyo
Sekdes Tanon, Muh Zamroni bersama Pj Kades dan jajaran perangkat desa saat memberikan klarifikasi perihal aksi demo 3 sopir yang viral, Kamis (26/12/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN,JOGLOSEMARNEWS.COM Pihak pemerintah desa Tanon, Kecamatan Tanon, Sragen akhirnya angkat bicara soal video viral aksi demo 3 orang warga di depan balai desa setempat, Selasa (24/12/2019).

Selain membantah tudingan adanya proyek fiktif, pihak Pemdes juga menegaskan aksi demo itu diduga karena ketidakpahaman warga soal aturan pengelolaan proyek desa.

Sekdes Tanon, Muh Zamroni saat ditemui di kantor desa, Kamis (26/12/2019) mengaku sempat kaget ketika mendapat laporan ada spanduk bernada protes ke desa yang dipasang di depan kantor.

Seketika mendapat laporan, siang itu juga pihaknya kemudian memanggil Ketua BPD untuk membahas munculnya demo tiga sopir yang direkam dan diviralkan tersebut.

“Di balai desa, kemudian warga yang protes dan masang spanduk itu langsung kita klarifikasi maksud dan tujuannya. Intinya mereka itu punya armada tapi ingin ikut ngesub proyek desa, tapi tidak klarifikasi ke desa atau suplier dulu tiba-tiba langsung buat aksi masang spanduk itu,” papar Sekdes bersama Pj Kades, Sumarsono dan perangkat lainnya.

Zamroni mengaku sangat menyayangkan aksi yang membuat nama Desa Tanon akhirnya jadi perbincangan luas tersebut. Padahal, menurutnya selama ini pihak desa sudah berupaya terbuka dalam segala hal termasuk pengelolaan proyek desa.

Perihal penyuplai material, sebelumnya di awal tahun memang sudah ada musyawarah bersama dan ada kesepakatan untuk proyek desa sudah dibagi tiga suplier untuk tiga kebayanan.

Baca Juga :  Insiden Viral Ratusan Pelamar Berdesakan Sampai Terinjak-Injak di Pabrik Boneka Masaran Sragen, Dinas Sesalkan Manajemen Tak Koordinasi Dulu

Dari musyawarah, sejak awal disepakati untuk proyek di kebayanan I, 2 dan 3 masing-masing sudah ditunjuk suplier di wilayah setempat yang memenuhi persyaratan seperti izin, NPWP dan lainnya.

“Seperti tahun-tahun yang berjalan, ketika ada proyek seperti itu kalau ada armada di wilayah setempat dan ingin ikut, pasti kita arahkan ngesub ke suplier yang ditunjuk. Kalau supliernya memang nggak mau, baru lapor ke desa dan pasti akan kita bantu untuk menyampaikan. Lha ini, laporan belum ada, tanya juga nggak, tahu-tahu langsung protes divideokan dan disebar ke mana-mana,” terangnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengklarifikasi soal tudingan proyek fiktif yang dilontarkan dalam video itu. Zamroni menegaskan saat ini belum ada pelaksanaan proyek sehingga tudingan proyek fiktif itu jelas tidak berdasar.

“Kalau untuk 2020 mestinya karena ada kades baru, nanti mekanismenya bagaimana ya nanti kita bicarakan bareng. Kita pertemukan dengan suplier-suplier yang ada di Desa Tanon. Duduk bersama dimusyawarahkan, kan enak. Tapi yang jelas penunjukan suplier itu pun ada ketentuannya, nggak asal menunjuk,” tandasnya.

Kasi Pelayanan, Dawam menyampaikan dari keterangan ketiga sopir yang demo, mereka intinya sedang tak ada kerjaan dan ingin ikut menyuplai material proyek desa.

Baca Juga :  Viral, Video Pemandangan Miris Ratusan Pelamar Kerja di Pabrik Boneka PT CWI Masaran Sragen Berkerumun dan Berdesakan Memasukkan Lamaran. Sebagian Bahkan Sampai Terinjak-Injak Pelamar Lain

Ia juga menegaskan selama ini, Pemdes sudah mengacu pada aturan. Di mana proyek desa dengan anggaran di atas Rp 100 juta, supliernya harus melalui penunjukan toko dan yang sudah memiliki izin serta persyaratan.

“Ya harusnya nanya dulu, bagaimana dan maunya apa. Nggak terus tiba-tiba bawa spanduk dan disebar ke mana-mana begitu,” urainya.

Sementara, Penjabat Kades (Pj Kades) Tanon, Sumarsono memastikan setelah dipanggil, diklarifikasi dan diajak bermusyawarah, ketiga sopir yang demo itu akhirnya bisa menyadari dan sudah bisa menerima penjelasan dari desa.

Menurutnya, aksi mereka lebih dikarenakan kesalahpahaman dan kekurangtahuan terkait aturan pengelolaan proyek desa.

“Alhamdulillah, sudah selesai dan mereka bisa menerima. Bagi kami, ini diambil hikmahnya saja. Mungkin ke depan semua harus lebih berhati-hati dan bekerja lebih baik lagi karena warga seperti itu. Bagi mereka, ini bisa menjadi pembelajaran agar segala sesuatu tidak mengedepankan emosi sesaat tanpa klarifikasi serta mencari informasi dulu. Segala sesuatu mestinya bisa dibicarakan dan dimusyawarahkan dengan baik-baik,” tandasnya.

Ia memastikan, spanduk yang dipasang seusai demo, siang hari itu juga dilepas kembali oleh tiga warga yang melakukan aksi. Saat ini, ia juga memastikan situasi desa sudah kondusif dan persoalan kesalahpahaman itu sudah selesai. Wardoyo