loading...
Loading...

PALEMBANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Bila Anda traveling sekaligus pecinta durian, kota Palembang bisa dijadikan tujuannya. Di ibu kota provinsi Sumatera Selatan itu, ada baiknya untuk mampir sejenak ke “Pasar Durian Kuto”

Pasar ini buka selama 24 jam dengan menawarkan aneka rasa dan ukuran durian dari berbagai daerah, seperti Lubuklinggau, Bengkulu, Lahat dan beberapa sentra perkebenunan lainnya.

Sayang rasanya bila belum mencicipi buah berduri itu pada tempat yang sangat representatif itu karena mendapat penataan dari pihak pemerintah dan swasta. Sebelumnya, Tempo sempat juga mendatangi kebun durian di Jayaloka, Tebing Tinggi, Empat Lawang.

“Pasar Durian Kuto sudah tidak kumuh lagi seperti yang dulu-dulu,” kata Isnaini Madani, Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang.

Benar nian apa yang disampaikan oleh Isnaini Madani, Kamis pagi, 9 Januari 2020. Ketika TEMPO berkunjung ke Kuto siang harinya, ribuan biji buah durian tertata rapi di rak-rak sepanjang jalan di depan kampung Arab itu. Durian tidak lagi ditumpuk di pinggir jalan yang hanya beralaskan tanah.

Untuk kenyamanan pengunjung, meja kursi dan tempat duduk cantik disediakan oleh pihak ke tiga. Sedangkan soal harga tidak perlu khawatir akan adanya permainan. Durian ukuran besar di jual Rp 35.000/biji dan Rp 25.000 untuk ukuran yang lebih kecil, “Kami sudah ingatkan pada pedagang untuk menjual dengan harga yang wajar agar pembeli tidak jera,” ujarnya.

Baca Juga :  Restoran Keluarga Milenial, Ya Taman Kuliner Djos Gandos

Aman, pemilik kios durian “Aduhai” di Pasar Kuto mengaku lebih beruntung bisa menjual buah musiman itu. Dengan kondisi kios yang bersih, rapi, pembeli berdatangan setiap waktu untuk menikmati durian dagangannya.

Hari ini saja, ia menyiapkan sekitar 1.600 biji durian dari Lubuklinggau dan Bengkulu. Durian itu katanya merupakan buah pilihan yang sudah disortir sehingga dijamin tidak akan merugikan konsumen, yang sebagian merupakan pendatang dari luar daerah. “Durian dari Tebing Tinggi belum masuk ke sini karena rasanya belum manis,” kata Aman.

Berlibur sambil menikmati buah durian di Sentra perkebunan durian di Jayaloka, Tebing Tinggi, Empat Lawang. TEMPO/Parliza Hendrawan

Piknik ke Kebun Durian
Sementara itu untuk melihat ketersedian buah durian di salah satu sentranya, akhir pekan lalu, Tempo mendatangi kebun milik warga Jayaloka, Tebing Tinggi, Empat Lawang. Ratusan biji Durian terlihat menggantung diantara dahan dan batang pohon. Hanya saja di sana durian belum bisa dipanen, lantaran belum benar-benar matang sehingga rasanya belum manis dan legit.

Baca Juga :  Jangan Bilang Sudah ke Solo Jika Belum Mencicipi Dawet Telasih Bu Dermi di Pasar Gede

Lekat, salah seorang petani durian di Jayaloka, Tebing tinggi memprediksi masa panen akan berlangsung sekitar pertengahan Januari hingga awal Februari. “Panennya kami tunda sampai pertengahan bulan ini untuk mendapatkan durian dengan rasa yang manis dan berdaging tebal,” katanya.

Namun demikian Tempo masih beruntung karena bisa menikmati beberapa buah durian matang di pohon. Rasanya manis, aromanya sedap, durinya jarang dan yang penting lagi dagingnya tebal. Pada saat puncak panen nanti kata Lekat, rasa durian akan semakin manis dengan daging yang tebal. Biasanya buah durian ini dikirim ke Palembang, Jambi, Bengkulu, Lampung hingga Jakarta.

www.tempo.co

Loading...