JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Blak-Blakan, Alumni SMAN Asal Gemolong Ini Mengaku Juga Pernah Alami Cerita Pahit Intimidasi Terkait Jilbab. Begini Kisah dan Sarannya!

SMAN 1 Gemolong Sragen dari depan. Foto/Wardoyo
SMAN 1 Gemolong Sragen dari depan. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Kasus intimidasi dan teror gegara tak pakai jilbab oleh rohani islam (Rohis) di SMAN 1 Gemolong, Sragen ternyata diduga kuat tak hanya terjadi di SMAN itu.

Hal itu terkuak setelah salah satu alumni asal Gemolong buka suara dan mengaku pernah mengalami hal serupa ketika menimba ilmu di SMAN di wilayah Solo.

Adalah Niken Satyawati (44). Wanita kelahiran Gemolong Sragen itu turut berempati terhadap kasus yang menimpa Z. Ia pun akhirnya buka suara dan mengaku juga mengalami hal yang sama semasa SMA dulu.

Kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , perempuan asli Gemolong yang sekarang bermukim di Sukoharjo itu menyatakan bisa memahami apa yang terjadi.

“Saya kira yang mengintimidasi ini khilaf karena ghiroh beragama yang sedang meluap-luap. Tapi sebenarnya niatnya baik untuk syiar, mengingatkan karena merasa benar. Tapi mengingatkan itu pun harus dengan cara yang baik, bil hikmah wamau’dhotil hasanah,” ujar Niken Kamis (9/1/2020).

Baca Juga :  Baru Terungkap, Ustadz Muda Sragen Habib MA Yang Meninggal Terpapar Covid-19 Ternyata Punya Penyakit Penyerta Ini. Bupati Kaget Karena Mendiang Tidak Merokok, Warga Sebut Rajin Olahraga!

Wanita yang pernah menggeluti bidang jurnalistik itu pun memandang bagaimanapun mengintimidasi itu tidak bisa dibenarkan sekalipun untuk tujuan mengingatkan.

Masalahnya, menurutnya, sekarang ada kecenderungan orang melakukan syiar dengan mengintimidasi karena dia hanya memahami tafsir tunggal.

“Padahal tafsir itu ada banyak. Termasuk soal jilbab. Ada pendapat yang mewajibkan ada yang tidak,” tuturnya.

Jadi sebenarnya ketika ada yang memutuskan tidak mengenakan jilbab karena kesadaran, harus dihormati.

“Tidak boleh memaksakan orang lain harus satu pemahaman dengan kita. Jadi toleransi itu tidak hanya antaragama tapi dalam agama yang sama juga diperlukan,” tukasnya.

Baca Juga :  Sah, Pasangan Yuni-Suroto Akan Ada di Kotak Kanan Surat Suara pada Pilkada Sragen 2020. Ketua KPU Yakinkan Tak Ada Pesanan!

Niken berharap masalah yang mengemuka di SMAN 1 Gemolong segera diselesaikan dengan baik. Masing-masing pihak bisa mengambil pelajaran.

Untuk pelaku juga jangan dibunuh karakternya karena ya tadi sebenarnya niatnya baik.

“Cukup diberi wawasan saja agar dia lebih toleran dan cara beragamanya tidak cupet hingga dikit-dikit merepresi pihak lain yang berbeda pemahaman dengan dia,” tandas Niken.

Niken Satyawati bersama tiga orang temannya pada tahun 1991 sempat dikenai sanksi dua bulan tidak boleh masuk kelas karena mengenakan jilbab. Waktu itu Niken masih duduk di Kelas II salah satu SMAN di Solo. Tahun yang sama, pemerintah kemudian resmi membolehkan jilbab di sekolah negeri. Wardoyo