JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Buntut Teror Jilbab SMAN 1 Gemolong Hingga Bendera HTI di SMKN 2 Sragen, Dinas Pendidikan Provinsi Jateng Bakal Kumpulkan Semua Rohis SMA/K dan MA di Sragen. Kepala Dinas: Perbedaan Itu Sunatullah!

274
Kadisdikbud Pemprov Jateng, Jumeri. Foto/Wardoyo
loading...
Loading...
Kadisdikbud Pemprov Jateng, Jumeri. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Mencuatnya sejumlah kejadian intoleransi dan dugaan radikalisme di sejumlah rohani islam (Rohis) SMA dan SMK di Sragen, membuat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah, mulai berespon.

Sebagai tindaklanjut, dalam waktu dekat, Disdikbud Provinsi berencana mengumpulkan semua pengurus kerohanian islam (rohis) dari seluruh SMA, SMK dan MA di Sragen.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Jumeri saat dihubungi wartawan Senin (13/1/2020). Ia mengungkapkan kasus intoleransi di SMAN 1 Gemolong yang menimpa salah satu siswi, sebenarnya sudah selesai.

Seluruh Kasek, Wakasek, guru, pembina Rohis dan pengurus Rohis sudah dikumpulkan dan diberi pembinaan oleh KCD (Kepala Cabang Dinas) Jumat (10/1/2020).

Sebagai kelanjutan atas kejadian itu
pihaknya akan mengambil langkah-langkah lanjutan terhadap semua Rohis di wilayah Sragen. Yakni dengan mengumpulkan pengurus Rohis di semua sekolah SMA, SMK dan Madrasah Aliyah untuk diberikan pembinaan.

Menurut rencana, nantinya Gubernur Jateng sendiri yang diharapkan akan hadir memberikan pengarahan kepada Rohis.

Baca Juga :  Demi Kebutuhan Sehari-Hari, Robert Asal Tangen Sragen Rela Bobol Bengkel di Transito. Barang Curiannya Dijual Paketan Lewat Online

“Nanti bentuknya seperti sarasehan. Pak Gubernur kita harapkan bisa hadir. Kita akan kumpulkan khusus rohis SMA, SMK dan MA di Sragen. Satu sekolah mengirimkan 3 anak perwakilan pengurus rohis, didampingi kepala sekolah dan guru masing-masing. Itu ikhtiar kita untuk bisa mengurangi resiko-resiko semacam yang terjadi,” papar Jumeri, Senin (13/1/2020).

Langkah itu digagas mengingat di Sragen sudah beberapa kali ada kejadian mengarah terkait intoleransi dan radikalisme.

Sebelum kasus teror terhadap siswi SMA Negeri 1 Gemolong yang tidak pakai jilbab mencuat, kasus radikalisme juga sempat terjadi saat anak-anak kerohanian islam (rohis) viral di media sosial mengibarkan bendera mirip HTI, medio Oktober 2019.

Jumeri menguraikan dalam sarasehan nanto, para siswa akan diberikan pemahaman seputar pentingnya menjaga toleransi di antara sesama. Serta agar tidak melakukan bullying jika ada temannya yang berbeda, dan memberikan kesadaran agar para siswa bisa menerima perbedaan sebagai sebuah kewajaran.

“Harapan kami anak-anak bisa menghargai perbedaan dan memandang bahwa perbedaan itu Sunatullah. Pak Gub kan pinter berdialog dengan anak, beliau ahlinya,” tambah Jumeri.

Baca Juga :  Kisah Miris Penderita AIDS asal Taraman Sragen Bikin Kepala Pegadaian Jateng Tergerak Jauh-Jauh Ngetrail Hanya Untuk Menengok. Bantu CSR Rp 41,9 Juta, Rumahnya Pun Langsung Berubah Drastis

Selain itu, pihaknya juga mengajukan program lain bertajuk Solo Bersimfoni, yang akan dikembangkan di wilayah eks Karesidenan Surakarta.

Bentuk kegiatannya adalah pembinaan bagi sekolah-sekolah yang terdeteksi radikal. Kegiatan ini dikemas semacam kegiatan ekstrakurikuler di tiap sekolah, dengan pendampingan pihak Solo Bersimfoni.

“Ya ada nanti berupa latihan geguritan, membuat cerpen dan slogan-slogan, serta dan kegiatan fun yang mengarah ke kegiatan yang mengajarkan toleransi. Sudah ada contoh di SMAN 1 dan SMAN 6 Solo, dua sekolah ini nantinya yang jadi benchmark,” urai Jumeri. Wardoyo

Loading...