JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Boyolali

Hujan Tangis Sambut 4 Jenasah Suami Istri dan 2 Anak Warga Boyolali Yang Tewas Keracunan Genset Saat Banjir Bandang Jakarta

Warga dan pelayat memadati rumah duka korban banjir bandang asal Boyolali. Foto/Wardoyo
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Warga dan pelayat memadati rumah duka korban banjir bandang asal Boyolali. Foto/Wardoyo

BOYOLALI, JOGLOSEMARNEWS.COM Bencana banjir di Jakarta membawa mimpi buruk bagi sekeluarga asal Boyolali ini.

Empat anggota keluarga meninggal dunia sekaligus akibat gas beracun mesin jenset saat banjir bandang melanda wilayah Jakarta kemarin.

Musibah banjir bandang tragis itu merenggut nyawa keluarga Mahmudi (35) pria asal Dukuh Kadirejo RT 11, Kadipaten, Andong, Boyolali.

Ia tewas bersama istri dan anaknya, Ayu Mariyana Oktavia (29), Selvia Audi Pratiwi (9), dan Mahesa Kurniawan (4).

Mereka tewas secara mengenaskan dan ditemukan di rumah kontrakannya di Pulo Gadung, Jakarta ada Kamis 2 Januari 2020.

Musibah itu tak pelak mengirim duka bagi kerabat dan warga tetangga korban di kampung halaman. Saat JOGLOSEMARNEWS.COM menyambangi rumah duka, Jumat (3/1/2020) petang, suasana haru menyelimuti rumah korban.

Hujan tangis kemudian menyambut kedatangan empat jenasah sekeluarga itu.

“Ditemukan semuanya dalam keadaan tidur di satu ruangan kost dan sudah tak bernyawa,” kata Maryono, Kepala Desa Kadipaten, Andong, Boyolali, Jumat (3/1/2019).

Maryono mengatakan, pihaknya juga sudah melakukan komunikasi dengan warganya yang berada di Jakarta. Hal itu untuk mengurusi pemulangan jenazah di kampung halaman di Andong, Boyolali.

“Sejak kemarin malam kita sudah komilunikasi terus dengan warga saya yang ada di sana. Cuma kita baru memberitahu orang tua korban bernama Rusmi (63), Sugito (65) baru tadi pagi habis sholat subuh, karena kita mencari waktu yang tepat,” ujarnya.

Kesedihan mendalam dirasakan seluruh keluarga di rumah. Salah satunya Ida Purwanti (25) adik kandung Mahmudi, dirinya menyampaikan kakaknya bekerja di Jakarta sudah ada 10 tahun

“Terakhir telpon kemarin bilang ke ibu saya katanya rumah kostnya kebanjiran satu pinggul, tapi tidak apa- apa. Habis itu langsung tidak ada komunikasi lagi malah dapat kabar satu keluarga meninggal dunia,” kata Ida. Wardoyo