JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kuota Pupuk Subsidi Sragen Tiap Tahun Terus Merosot dan 2020 Makin Anjlok, Petani Makin Menangis

Pengurus kelompok tani Desa Gawan, Sutarno. Foto/JSnews
Pengurus kelompok tani Desa Gawan, Sutarno. Foto/JSnews

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM
Kuota Pupuk Subsidi bagi petani di Kabupaten Sragen dipastikan makin merosot. Tren yang ada pasokan pupuk bersubsidi dari tahun ke tahun terus berkurang.

Kondisi ini sangat ironis, Sragen sebagai lumbung pangan nasional. Akibat pasokan pupuk tidak terpenuhi 100 persen, menyebabkan petani kesulitan mendapatkan pupuk hingga membuat harga pupuk menjadi mahal.

Petani pun mengeluhkan kuota pupuk bersubsidi yang terus berkurang dari tahun ke tahun, hingga menyebabkan kebutuhan pupuk ini kurang.

Bahkan unntuk memenuhi kebutuhan pupuk harus berburu ke luar daerah kendati dengan harga yang lebih mahal.

Kelangkaan barang tidak ada bukan dialirkan ke daerah lain, namun memang terjadi karena pasokan yang tidak seimbang.

Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen, Suratno kepada wartawan mengatakan, pengurangan kuoata pupuk bersubisi itu sudah terjadi beberapa tahun terakhir.

Baca Juga :  Bunuh Diri Terjun dari Jembatan, Jenazah Penjual Pentol Goreng asal Tangen Sragen Yang Sempat Hilang 2 Malam Akhirnya Ditemukan Pagi Tadi. Ditemukan Jarak 1,5 KM dari Jembatan Sapen

Tahun ini, bahkan pengurangannya semakin parah. Hal ini tak membuat khwatir kebutuhan pupuk tidak bisa mencukupi seluruh wilayah areal pertanian yangmencapai 142.000 hektar.

Menurutnya, selama ini keluhan sudah sering disampaikan ke pihak terkait namun selalu nihil respon. Bahkan keluhan ke DPRD maupun bupati juga belum mampu mendongkrak pasokan pupuk subsidi ke Bumi Sukowati.

Suratno. Foto/Wardoyo

Suratno menjelaskan tahun ini dari luas lahan tersebut hanya mendapat pasokan pupuk Sp 36 sejumlah 3.000 dari kebutuhan 14.000 ton. Begitu juga pupuk Urea dari kebutuhan 40 ton hanya tersedia 30 ton.

Kelangkaan ini bukan karena pupuk mengalir ke daerah lain. Tapi memang pasokan yang dikurangi.

“Ponska alokasinya hanya 32 ton dari kebutuhan 42 ton. Belum lagi itu dibagi dengan petani tebu dibagi dengan perkebunan. Otomatis makin berkurang lagi,” tandasnya.

Baca Juga :  Bukan 50 % Plus 1 Dari Jumlah Warga Yang Hadir, Ternyata Ini Syarat Menang Bagi Paslon di Pilkada Tunggal atau Lawan Kotak Kosong. Simak Ketentuan Surat Suara dan Hitungan Menangnya!

Suratno mengatakan, di awal tahun pasokan pupuk subsidi ini tidak masalah, karena kekurangan diambilkan jatah musim tanam berikutnya.

Namun saat akhir tahun petani akan menangis untuk mendapatkan pupuk tesebut karena stok sudah tidak tersedia.

Bahkan akhir tahun lalu petani sragen harus membeli pupuk dari luar daerah dengan harga jauh lebih tinggi. Misalnya Ponska yang hanya 115-120 menjadi 160 ribu.

Pihaknya berharap pemerintah memperhatikan Sragen sebagai lumbung pangan nasional.

Salah satu petani asal Tanon, Sutarno, membenarkan bahwa kuota pupuk subsidi kian tahun makin menipis. Hal itu membuat petani makin sulit untuk memenuhi kebutuhan pemupukan yang ideal.

“Lalu kalau harus pakai pupuk nonsubsidi juga harganya sangat mahal. Bisa dua kali lipatnya. Apa nggak makin nangis,” tukasnya. Wardoyo