JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Marak Fenomena Kemunculan Ular Kobra dan Piton di Beberapa Wilayah di Sragen. Begini Kata Pemerhati Lingkungan dari IOF!

7542
Dari atas, penangkapan ular piton di Sragen, penangkapan piton di Gondang dan ular kobra di Purwosuman Sidoharjo, Sragen. Foto kolase/Wardoyo
loading...
Dari atas, penangkapan ular piton di Sragen, penangkapan piton di Gondang dan ular kobra di Purwosuman Sidoharjo, Sragen. Foto kolase/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Sudah beberapa waktu, warga di beberapa daerah digegerkan dengan kemunculan anakan ular kobra di lingkungan permukiman.

Kemunculan kobra yang hampir berbarengan di banyak lokasi, sempat menjadi sorotan nasional dan menimbulkan kekhawatiran tersendiri.

Termasuk di Sragen yang dalam beberapa hari terakhir juga ditemukan banyak bermunculan beberapa jenis ular ke permukiman dan rumah warga.

Tak hanya jenis kobra Jawa, ular berukuran besar macam piton, ular jali hingga ular berbisa macam ular hijau, juga mendadak menjadi fenomena.

Temuan ular kobra marak bermunculan di wilayah Sidoharjo Sragen. Data yang dilansir dari rescue Poldes Masaran, temuan ular kobra muncul di Desa Patihan, Purwosuman, Sribit hingga terakhir di Desa Singopadu.

Sementara Ular Piton dan ular hijau, muncul di Sidoharjo, Patihan, Miri hingga Gondang. Sebagian ular berhasil dievakuasi dan direhabilitasi, namun tak sedikit yang terlanjur dibunuh oleh warga karena takut.

Lantas apa yang sebenarnya terjadi? Koordinator Rescue Indonesian Offroad Federation (IOF) Sragen, Ahmad Mujiyono mengungkapkan kemunculan kobra di banyak wilayah di Sragen itu sebenarnya fenomena alam biasa dan siklus alam yang biasa terjadi.

Sebagai pemerhati lingkungan yang kerap bersentuhan dengan dunia satwa utamanya ular, ia memandang fenomena banyaknya ular kobra yang muncul saat ini, terjadi karena memang musimnya ular pada menetas.

Baca Juga :  Pesta Sabu Dinihari di Jalan Desa Kecik Sragen Digerebek Polisi. Dua Warga Ditangkap Saat Teler, Diamankan 2 Paket Sabu

“Tidak ada sesuatu yang luar biasa. Ini fenomena alam yang biasa. Karena saat ini memang musim-musim telur ular menetas,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM di sela memberikan edukasi kepada warga di Singopadu, Sidoharjo seusai penemuan ular kobra di wilayah itu.

Pecinta alam yang kerap disapa Pak Yono itu menguraikan situasi menjadi ramai karena munculnya fenomena media sosial. Sehingga begitu ada temuan ular kobra dan diunggah ke medsos, kemudian ramai menjadi perbincangan.

Hal itu berbeda dengan dulu, ketika masyarakat belum begitu gandrung dengan medsos. Ketika ada temuan ular, dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

“Ular menetas memang di bulan-bulan seperti ini. Menjadi heboh karena sebagian ditemukan di permukiman dan lingkungan rumah. Karena ular memang punya insting menempatkan telurnya di lokasi yang dianggap nyaman dan bisa menjadi inkubator untuk telurnya menetas,” terangnya.

Ia menguraikan ketika ada temuan ular di sebuah lokasi dan kemudian dievakuasi, bukan jaminan bahwa di lokasi itu tidak akan ada ular lagi.

Karenanya, ia mengimbau kepada masyarakat jika ketemu ular jangan khawatir atau langsung membunuh. Sebab tidak semua ular berbahaya atau berbisa.

Baca Juga :  Pertama Dalam Sejarah, Jabatan Kades Doyong Sragen Ditentukan Melalui Pilkades PAW. Sempat Memanas, 4 Balon Tercoret, 3 Kandidat Bakal Berebut 40 Suara

“Kecuali kalau memang sudah menyerang atau masuk ke permukiman, berarti memang sudah ada konflik dengan masyarakat. Tapi tidak serta merta pula kalau ada ular di rumah itu harus dibunuh. Cukup diusir saja, atau dibuang ke lokasi alam. Karena kalau ketemu ular langsung dibunuh, lama-lama nggak akan ada ular lagi, sehingga dampaknya ekosistem alam akan timpang. Akhirnya populasi tikus jadi merajalela,” terangnya.

Yono menambahkan jika ada temuan ular di permukiman atau rumah dan ketakutan untuk menangkap, warga sebaiknya melapor ke rescue. Sehingga ular bisa diamankan dan dievakuasi.

“Nanti ular yang kita tangkap akan direhabilitasi dan kemudian kita lepasliarkan lagi ke alam terbuka. Ini edukasi tentang ekosistem dan mengembalikan keseimbangan ekosistem alam,” tandasnya. Wardoyo