loading...

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Penerapan aplikasi berbasis android di bidang pertanian terbukti mampu meningkatkan keuntungan petani. Selain itu bisa menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.

Fakta tersebut dibuktikan langsung oleh salah satu petani milenial sukses asal Wonogiri, Dwi Sartono. Pemilik lahan hortikultura di Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, itu menggunakan teknologi android untuk mengembangkan pertaniannya.

“Saya menerapkan aplikasi Sipindo dari Panah Merah grup dalam budidaya hortikultura. Hasilnya sangat memuaskan,” ungkap Dwi ketika dijumpai di lahannya, Kamis (23/1/2020).

Dia menerangkan dalam aplikasi berbasis android itu tersaji secara komplit semua hal yang wajib diketahui petani. Meliputi cara pengolahan lahan yang benar, pembibitan, pemupukan, pemasaran, pasca panen, informasi harga, bahkan sampai prediksi curah hujan.

“Salah satu yang sangat membantu adalah soal pemupukan, dalam aplikasi itu ada informasi komplit mengenai unsur hara yang terkandung dalam lahan. Dengan demikian kita bisa tahu kebutuhan pupuk yang benar-benar tepat. Selama ini petani terbiasa over dalam memupuk lahan,” beber pria lulusan IPB tersebut.

Dengan menerapkan panduan dalam aplikasi, pengeluaran petani bisa ditekan. Secara otomatis, sebut dia, juga meningkatkan produksi hingga muaranya keuntungan petani bisa dimaksimalkan.

Baca Juga :  Kapolres Wonogiri Umumkan Penyemprotan Disinfektan Massal 25 Kecamatan Cegah Covid 19 Selasa Besok

Melalui penerapan teknologi yang akrab di kalangan generasi muda, menurut dia, akan membuat milenial tertarik terjun ke sektor pertanian. Dengan demikian ada penerus pelaku usaha pertanian yang enerjik dan berkualitas.

“Saya sendiri sudah memraktekkan untuk tomat dan mentimun. Di lahan saya juga digunakan sebagai rumah pintar untuk tempat sharing dan pendampingan dari tim aplikasi itu,” jelas dia.

Lebih lanjut dia membeberkan,
menggarap lahan hanya seluas 5000 meter persegi. Lahan tersebut ditanami terong, cabai, labu madu, tomat, pare, mentimun, melon golden, melon hijau, semangka kuning, dan semangka merah.

Budidaya hortikultura juga menyiasati harga jatuh saat panen. Pasalnya ketika memasuki usia panen, seperti saat ini, wisatawan lokal maupun warga boleh memetik sendiri dari pohon. Selanjutnya tinggal ditimbang dan dibayar di kasir.

Petani bisa bertemu langsung dengan konsumen, tanpa melalui pengepul atau tengkulak dan pedagang, memotong jalur distribusi. Harga menjadi murah bagi konsumen tapi menjadi lebih baik bagi petani.

Baca Juga :  Capai 52 Miliar Lebih, Segini Anggaran Recovery Warga Wonogiri Terdampak Corona, Pakai Program Jaring Pengaman Sosial

Dwi menuturkan, awal gagasan budidaya hortikultura muncul sejak 2008 lalu. Awalnya sebagai media edukasi petani. Namun tidak diduga ternyata malah menarik perhatian pengunjung.

Andi Bachtiar, Data Koordinator Sipindo (Sistem Informasi Pertanian Indonesia) dari Yayasan Bina Tani Sejahtera, Panah Merah grup mengatakan, tahun ini ada fitur baru dalam aplikasi. Yakni irigasi dan kalkulator pupuk.

Dengan hadirnya aplikasi itu diharapkan bisa menekan biaya produksi pertanian, edukasi bagi petani. Juga bisa mengenalkan dan mengajak generasi muda agar tertarik dengan pertanian.

Sementara Indah Nuryanti dari-VegimpactNL-salah satu penyedia materi dalam Sipindo- menuturkan, edukasi bagi petani tidak sebatas mengenai pengolahan lahan, panen, dan seterusnya. Melainkan menyasar pula kepada upaya menjaga kesehatan petani. Aria