JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Terpilih Kedua Kali, Kades Muda di Sragen Ini Pilih Ikhlaskan 4 Hektare Jatah Bengkoknya Untuk Membangun Desa. Padahal Satu Periode Bisa Hasilkan Rp 500 Juta

Camat Plupuh, Sumarno saat menyerahkan potongan tumpeng penanda serah terima jabatan Kades Terpilih Desa Sambirejo, Prihandoko yang kembali menjabat di periode keduanya, Senin (6/1/2020). Foto/Wardoyo

loading...
Camat Plupuh, Sumarno saat menyerahkan potongan tumpeng penanda serah terima jabatan Kades Terpilih Desa Sambirejo, Prihandoko yang kembali menjabat di periode keduanya, Senin (6/1/2020). Foto/Wardoyo

SRAGEN,JOGLOSEMARNEWS.COM Pilkades serentak di 167 desa di Sragen periode 2019, menghadirkan beragam cerita. Namun salah satu yang menarik ada di Kecamatan Plupuh.

Di salah satu desa yakni Desa Sambirejo, sang Kades terpilih, yakni Prihandoko, membuat sejarah nan langka. Kades petahana yang terpilih kembali di periode keduanya itu, ternyata tak pernah mengambil jatah tanah bengkok dari desa.

Selama enam tahun memimpin di periode pertama 2013-2019, empat hektare jatah bengkoknya semua diserahkan kembali ke desa.

Keputusan menyerahkan tanah bengkok itu juga akan dilanjutkan di periode kedua kepemimpinannya. Hal itu ia deklairkan saat didaulat memimpin kembali Desa Sambirejo dalam serah terima jabatan (Sertijab) yang digelar di aula desa setempat, Senin (6/1/2020) siang.

Di hadapan Muspika dan puluhan perangkat, lembaga desa dan tokoh masyarakat, Kades muda yang dikenal sebagai pengusaha itu mengatakan sudah siap untuk menyerahkan kembali jatah 4 hektare tanah bengkoknya.

Meski menjadi haknya, ia sudah ikhlas merelakan untuk tidak menggarap dan menyerahkan pengelolaan bengkoknya untuk kepentingan desa.

“Rencananya yang 1 hektare nanti biar dikasihkan untuk 2 tenaga honorer yang mbantu IT di desa. Tugas Sekdes kan berat sehingga dibantu honorer IT karena sekarang semua harus ditopang IT. Dua honorer itu juga meringankan beban tugas desa, karena SDM memang jadi kendala. Jadi nanti yang 1 hektare biar dikelola 2 honorer itu idep-idep sebagai gaji mereka,” papar Kades berusia 43 tahun yang akrab disapa Hanjus itu seusai sertijab.

Sedangkan 3 hektare lainnya sudah dipasrahkan ke desa untuk membantu membangun desa. Ia dan perangkat sudah merencanakan untuk tahun pertama hasil 3 hektare bengkok itu akan digunakan menyelesaikan pembangunan aula desa.

Baca Juga :  Blak-Blakan, Bupati Sragen Soroti Kebijakan New Normal dari Pusat. Sebut Sragen Belum Ajukan New Normal Karena Alasan Ini!

Kemudian di tahun kedua, hasil bengkok direncanakan untuk membangun gapura tapal batas desa di tiga titik. Masing-masing di Sambirejo, Pedak dan satu titik lagi.

“Dan gapuranya juga yang bagus sekalian. Untuk aula, nanti kalau hasil bengkok jatah masih kurang, juga akan saya tomboki dari pribadi. Ini demi desa agar lebih maju,” terangnya.

Hanjus menguraikan selama periode pertama, hasil tanah bengkoknya juga sudah dibantukan ke desa guna membangun beberapa fasilitas.

Ia menyebut dari 4 hektare bengkok itu jika disewakan maka dalam setahun bisa menghasilkan Rp 85 juta. Sehingga enam tahun diperkirakan bisa menghasilkan Rp 510 juta.

Menurutnya, keputusannya menyerahkan tanah bengkok itu bukan untuk gagah-gagahan atau pencitraan belaka. Akan tetapi, hal itu semata-mata sebagai wujud kecintaannya dan ikhtiarnya untuk memajukan desa.

“Karena hobi saya itu mbangun. Kalau hanya mengandalkan dana desa, nggak akan mumpuni. Apalagi Desa Sambirejo ini kan kotanya kecamatan Plupuh, jadi sebisa mungkin harus jadi suri tauladan bagi desa lainnya,” terangnya.

Di periode keduanya ini, Kades yang dikenal merakyat itu mengatakan akan menggenjot pembangunan di segala aspek. Baik untuk sektor pendidikan, kesehatan infrastruktur maupun pemberdayaan ekonomi desa.

Ia juga mengaku tak terlalu memedulikan jika ada suara sumbang yang menilainya sombong atau apapun terkait keputusannya tak mengambil jatah bengkok.

“Biarkan saja, kalau ada yang bilang kemaki lah, sombong dan lain-lain. Orang ngomong kan hak mereka, nggak apa-apa Mas. Yang penting niat dan tujuan saya baik. Biar nanti masyarakat yang menilai. Karena bagi saya wahyu Kades ini bukan wahyu orang yang kaya, tapi wahyu pamomong. Harus bisa ngemong warga. Alhamdulillah kalau rezeki dari Allah dari usaha saya Insya Allah bisa dibilang cukup lah,” tukasnya.

Baca Juga :  Kabar Duka Sragen, Kakek 70 Tahun PDP Corona Kembali Meninggal Dunia. Berasal dari Sambungmacan, Jadi Korban Meninggal ke-18

Camat Plupuh, Sumarno yang hadir memimpin sertijab pun mengakui bahwa dari semua desa di Kecamatan Plupuh, memang hanya Sambirejo yang jatah bengkok Kades tidak diambil tapi diberikan lagi ke desa.

Menurutnya, hal itu adalah teladan yang baik dan tak semua orang bisa melakukannya karena itu sudah berkenaan dengan hati dan keikhlasan.

“Ya, harapan kami di periode kedua ini, bisa lebih amanah dan Desa Sambirejo makin maju. Kepada Kades saya berpesan semoga bisa kembali menyatukan warga, kembali guyub rukun sehingga Desa Sambirejo lebih maju lagi,” tandasnya.

Sekdes Sambirejo, Mulyo Widodo membenarkan bahwa selama periode pertama kepemimpinan Kadesnya itu memang tak mengambil jatah tanah bengkok 4 hektare. Tanah bengkok itu dikelola oleh desa dan digunakan untuk membantu pembangunan di desa.

“Sejak dipimpin Pak Kades ini, lapangan sudah berubah bagus, lalu taman desa itu juga telah menghidupkan ekonomi warga. Sekarang tiap malam jadi ramai dan ada sekitar 32 pedagang yang berjualan. Dan itu tidak pernah dimintai retribusi apapun,” tukasnya.

Ya, Kades Sambirejo memang ibarat anomali dari potret Kades yang ada saat ini. Di saat banyak Kades yang terlena oleh gelimangan dana desa dan tak sedikit yang terseret ke penjara karena memakan dana yang bukan haknya, Kades Sambirejo justru merelakan haknya untuk dibantukan memajukan desa. Wardoyo