JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Efek Virus Corona Sampai Sragen, Harga Bawang Putih Sampai Meroket 300 %. Dinas Bentuk Tim Awasi Kemungkinan Spekulan Bermain!

Tedi Rosanto. Foto/Wardoyo
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Tedi Rosanto. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Wabah virus Corona yang menyerang Cina dan menewaskan ratusan korban jiwa mulai berdampak ke Sragen.

Bukan soal temuan kasusnya yang menyebar, dampak yang dirasakan adalah kenaikan harga komoditi sembako yang berasal dari Cina. Salah satunya adalah komoditas bawang putih yang belakangan meroket hingga 300%.

Dinas Perdagangan setempat pun langsung bergerak cepat dengan membentuk tim untuk melakukan pengawasan dan pengecekan harga di lapangan.

Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Sragen, Tedi Rosanto mengungkapkan kenaikan harga bawang putih di pasaran salah satunya memang terjadi akibat wabah Corona. Akibat kasus itu akhirnya pemerintah menutup keran impor bawang putih yang selama ini 90%-nya didatangkan dari negeri tirai bambu itu.

“Akhir Januari harga bawang putih sudah merangkak naik. Terutama setelah ada kabar virus corona itu.
Sehingga akhirnya Menteri Perdagangan melarang impor bawang dari China. Dampaknya otomatis harga di lapangan melonjak tinggi,” papar Tedi kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Rabu (5/2/2020).

Baca Juga :  Kades Gilirejo Sragen Kecelakaan Maut Gasak Mobil di Kalijambe. Perempuan Muda Yang Diboncengkan Tewas

Tadi menguraikan dari pantauan terakhir di lapangan hari ini, harga bawang putih di Sragen ini sudah mencapai angka Rp 46.000 perkilogram. Sementara bawang putih kating juga mengalami kenaikan cukup tinggi mencapai Rp 51.000 per kilogram.

Padahal biasanya dua jenis bawang itu harganya paling mahal hanya Rp 25.000 perkilogram saja.

Menurutnya, kenaikan harga bawang putih di pasaran saat ini memang 3 kali lipat dari harga biasa. Terkait kondisi tersebut, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan Provinsi Jateng. Hasilnya dinas Jateng menyampaikan sebenarnya stok bawang putih di Jateng aman sampai 3 bulan ke depan.

Perihal kemungkinan adanya spekulan di lapangan, Tedi menyebut hal itu sudah diantisipasi. Dia mengaku sudah memerintahkan jajarannya untuk mengawasi dan mengecek kemungkinan adanya pihak-pihak yang sengaja menimbun barang-barang terutama bawang merah saat situasi seperti ini.

“Karena stok Jateng dipastikan aman 3 bulan ke depan. Makanya kami perintahkan tim jika memang ada pihak yang menimbun barang agar segera dilaporkan kepada pihak yang berwajib,” tukasnya.

Baca Juga :  Tambah 3 Lagi, Kasus Positif Covid-19 Sragen  Terus Meroket Dekati Angka 100. Tiga Pasien Baru Masih Satu Keluarga, Berasal dari Plupuh

Di sisi lain, untuk komoditas cabe rawit yang meroket hingga Rp 100.000 perkilogram beberapa hari lalu, Tedi menyebut jika sudah mengalami penurunan. Berdasarkan laporan tim yang mengecek lapangan, saat ini harga cabe rawit sudah di angka Rp 66.000 perkilogram.

Harga itu sudah cenderung turun dibanding sehari sebelumnya yang masih berada di angka Rp 71.000 perkilogram.

“Kalau harga cabe naik hal itu terjadi karena Sragen memang bukan daerah penghasil cabe rawit. Sehingga harga di pasaran yang sangat tergantung dari harga daerah produsen. Tapi kami sudah mengimbau kepada tapi untuk selalu mengamati kenaikan harga-harga bahan di pasaran. Kalau memang terjadi kekurangan stok agar diupayakan untuk melakukan penambahan stok sehingga harga bisa stabil kembali. Kepada masyarakat kami juga mengimbau agar tidak selalu tergantung pada cabe segar karena sekarang sudah ada inovasi cabe bubuk,” tandasnya. Wardoyo