JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Mantan Napiter Amir Falah Ungkap Radikalisme Bukan Agama Apapun

mantan narapidana teroris (Napiter), , Amir Falah. Istimewa

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Seorang mantan narapidana teroris (Napiter), Harus Amir Falah mengungkapkan bahwa radikalisme itu bukan Islam. Ungkapan tersebut diwujudkan dalam bentuk buku berjudul “Hijrah dari Radikal Kepada Moderat”.

Dalam buku tersebut, Haris juga menekankan bahwa radikalisme tidak boleh dialamatkan pada agama apapun.

“Kata radikalisme menurut pandangan saya bukan dari ajaran Islam. Saya mencoba menulis perubahan pemikiran dan sikap saya tentang ajaran Islam, yakni dari paham yang ekstrim dan radikal menjadi moderat,” ungkapnya dalam bedah bukunya, Selasa (18/2/2020), di Auditorium Muh Djazman, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Haris Amir Falah sendiri merupakan mantan napiter yang ditangkap oleh aparat kepolisian saat latihan militer di Aceh pada 2010. Dalam bukunya, Haris berusaha mengungkapkan rekam jejak pengalamannya meskipun dalam segala keterbatasan.

Baca Juga :  Putra Sulung dan Menantu Presiden Jokowi Maju Pilkada Serentak 2020, Ini Perbandingan Harta Kekayaan Gibran dan Bobby, Tajir Siapa?

“Saya mencoba menulis perubahan pemikiran dan sikap saya tentang ajaran Islam, yakni dari paham yang ekstrim dan radikal menjadi moderat. Buku ini jyga bercerita tentang perjalanan hidup saya sepanjang memperlajari tentang Islam kemudian berinteraksi dengan berbagai organisasi gerakan yang ada di Indonesia,” imbuhnya.

Haris menyampaikan suatu perjalanan pergolakan pemikiran yang amat panjang dari sekitar 1983 hingga 2010, tentu tidak cukup hanya ditulis dalam buku ringkas semacam ini. Namun, setidaknya ini, menjadi ispirasi awal bagi banyak orang. Dalam durasi yang panjang itu, dia baru belakangan menemukan titik balik menuju pemahaman yang moderat dan rahmatan lilalamin.

“Pada buku ini, yang saya pahami dengan radikalisme adalah paham keagamaan yang berideologi kekerasan, kemudian terlalu keras memahami agama, dan juga berlebih-lebihkan yang akhirnya melahirkan intoleransi di dalam beragama baik intoleransi sesama kaum muslimin maupun terhadap orang-orang di luar Islam. Bahkan, kadang juga pada akhirnya akan melahirkan aksi-aksi teror,” tukasnya.

Baca Juga :  Evaluasi Perwali Pelanggar Protokol Kesehatan, Warga Luar Kota Solo Tak Pakai Masker Disanksi 2 Kali Lipat

Sementara itu, narasumber lain dalam bedah buku yaitu Dr. Amir Mahmud M.AG selakui pengamat Pergerakan Islam mengatakan radikal dinilai ada tiga kategori yakni dalam bentuk lisan atau ujaran kebencian.

“Hal ini sangat berpotensi sangat radikal. Kedua radikal dalam bentuk fisik yakni mereka tidak suka kemudian melakukan kekerasan, dan ketiga bentuk ekstrim, yakni mereka yang ingin mengubah suatu tatanan nilai bangsa manapun itu radikalisme. Radikalisme itu, bukan Islam. Islam bukan radikalisme. Namun, radikalisme itu, seseorang atau kelompok yang melakukan paham radikal,” kata Amir Mahmud. Prihatsari