JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Viral Komisioner KPAI Sebut Bisa Hamil Karena Renang Bersama Lawan Jenis, Begini Penjelasan Dokter

Ilustrasi renang. Pixabay

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Pernyataan salah satu komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitti Hikmawati viral sejak akhir pekan lalu.

Komisioner KPAI bidang kesehatan, Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA) tersebut menyebutkan kalau wanita yang berenang bersama laki-laki bisa berpotensi hamil.

Dr. Ivander Utama, SpOG yang bertugas di RSIA Bunda Jakarta dan Morula IVF menegaskan hal tersebut tidak mungkin terjadi.

“Tidak mungkin sama sekali,” kata dr. Ivan kepada Tribunnews.com, Senin (24/2/2020).

Dr. Ivander menyebutkan beberapa alasan wanita yang berenang bersama laki-laki tidak menyebabkan kehamilan

Ejakulasi Spontan Hanya Hasilkan Sedikit Sperma

Ejakulasi spontan yang dilakukan tanpa adanya masturbasi atau aktivitas seksual biasanya hanya menghasilkan sedikit volume ejakulat.

Baca Juga :  Tak Semua Hotel Mau Jadi Tempat Karantina Pasien Positif Covid-19, PHRI: Masalah Branding hingga Rendahnya Harga Sewa Kamar oleh Pemerintah

Kemudian sel sperma ejakulat tersebut harus bertahan dalam kondisi yang spesifik, dan tidak bertahan di luar tubuh.

“Oleh karena itu, tidak akan bertahan di luar tubuh seperti air atau permukaan tubuh,” ungkap dr. Ivander.

Zat antiseptik membunuh Sperma

Penggunaan zat antiseptik pada air kolam renang yaitu kaporit faktanya bisa membunuh sel sperma.

“Kaporit pada air kilam renang akan membunuh sel sperma sehingga kemungkinan hidupnya nol persen,” kata dr. Ivander.

Sel sperma bisa saja hidup tapi sel sperma harus menempuh jarak yang amat sangat jauh untuk menuju sel telur.

Baca Juga :  Penderita Covid-19 Meningkat, Muhammadiyah Jateng Minta Pilkada Ditunda Demi Keselamatan Warga

“Ukuran sel sperma adalah mikroskopis, oleh karena itu membutuhkan waktu lama untuk bergerak dari satu titik ke titik lain,” ungkap dr. Ivander.

Sperma Butuh Waktu Panjang Masuk ke Dalam Rahim

Sperma tidak bisa bertahan hidup tanpa protein-peotein dan enzim penunjang dan bahkan sperma membutuhkan waktu hingga satu sampai dua untuk menempuh perjalanan dari vagina hingga masuk ke dalam rahim.

“Oleh karena itu tidak mungkin sperma bertahan selama itu di luar tubuh untuk masuk ke dalam tubuh perempuan,” pungkas dr. Ivander.

www.tribunnews.com